Richard Bronson: Mantan Narapidana 'Wall Street' Dirikan Startup untuk Bantu Eks-Napi

Richard Bronson, seorang pengusaha dengan masa lalu yang tidak biasa, kini melangkah maju dengan meluncurkan startup bernama Commissary Club. Ia adalah mantan narapidana yang pernah mendekam di penjara federal, sebuah latar belakang unik untuk seorang pendiri perusahaan teknologi.
Pada era 1980-an, Bronson bekerja di Stratton Oakmont, firma pialang saham yang terkenal korup dan dipimpin oleh Jordan Belfort, sosok yang dijuluki "Serigala Wall Street". Kisah kelam perusahaan tersebut bahkan diangkat menjadi film layar lebar pada tahun 2013. Stratton Oakmont sendiri runtuh pada pertengahan 1990-an setelah dituduh melakukan berbagai pelanggaran.
Bronson merupakan salah satu rekan di Stratton, namun ia meninggalkan perusahaan itu setelah setahun untuk mendirikan firmanya sendiri di Florida Selatan. Usaha barunya ini sempat mencapai kesuksesan besar, sebelum akhirnya ia terjerat masalah hukum.
"Saya membangun bisnis senilai USD 100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) dengan membantu perusahaan-perusahaan kecil melakukan penawaran umum saham perdana," ungkap Bronson kepada TechCrunch.
"Namun, sebagian dari kesuksesan itu diraih melalui pelanggaran hukum sekuritas. Pada akhirnya, seperti yang saya tahu pasti akan terjadi, saya harus membayar mahal konsekuensinya."
Ia kehilangan segalanya, termasuk kebebasannya, dan harus menjalani hukuman di penjara federal selama beberapa tahun. Pengalaman pahit tersebut, meski sudah lama berlalu, tidak pernah ia lupakan, terutama perjuangan keras saat pertama kali keluar dari balik jeruji besi.
"Tidak ada yang mau mempekerjakan saya, meskipun saya memiliki pendidikan dan pengalaman kerja yang mumpuni. Saya merasa seperti benar-benar 'radioaktif' di mata mereka," kenangnya.
Pengalaman pribadi Bronson pasca-penjara inilah yang menginspirasi pendirian startup terbarunya. Commissary Club adalah platform media sosial berfokus pada pekerjaan, yang namanya diambil dari toko di dalam penjara tempat narapidana membeli makanan ringan dan perlengkapan mandi.
Situs ini secara spesifik ditujukan bagi mantan narapidana dan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mereka menavigasi proses kompleks dalam mencari pekerjaan dan tempat tinggal setelah kembali ke masyarakat. "Saya menyadari betapa minimnya bantuan yang tersedia bagi orang-orang yang baru keluar dari penjara," tutur Bronson.
"Jika bagi saya saja begitu sulit, bagaimana nasib teman-teman saya di penjara yang memiliki pendidikan dan pengalaman kerja sangat terbatas? Bagaimana peluang mereka?"
Commissary Club juga memiliki komponen sosial. Bronson menambahkan fitur ini karena ia memahami betapa terisolasinya pengalaman pasca-penjara. "Ini hampir seperti Facebook," jelasnya.
"Para pengguna tidak hanya dapat mencari pekerjaan, mendapatkan bantuan untuk pekerjaan dan perumahan, serta akses ke tunjangan, tetapi juga menemukan elemen penting lain yang tidak terpenuhi di tempat lain: komunitas." Berdasarkan situsnya, Commissary Club juga berpotensi menjadi jaringan rujukan dan menawarkan fitur untuk menemukan pasangan.
Saat ini, startup Bronson beroperasi dengan tim kecil beranggotakan dua orang. Selain Bronson sendiri, ada Roman Kissin sebagai salah satu pendiri yang ia sebut sebagai otak teknis di balik proyek ini. Kissin sebelumnya pernah bekerja untuk eBay dan IBM, serta menjabat sebagai CTO LexisNexis antara tahun 2022 hingga 2025, berdasarkan profil LinkedIn-nya.
Situs ini menerapkan model freemium, yang berarti gratis di awal lalu beralih ke berbayar. Pengguna mendapatkan "10 lamaran pertama secara gratis, kemudian kami menawarkan paket berikutnya seharga USD 149 (sekitar Rp2,4 juta) untuk 10 lamaran, atau USD 14,99 (sekitar Rp243 ribu) per lamaran," terang Bronson kepada TechCrunch. Beberapa pihak mungkin meragukan model bisnis berorientasi keuntungan ini, apalagi bagi mereka yang baru keluar dari penjara, harga tersebut bisa menjadi tawaran yang berat.
Namun, Bronson melihatnya sebagai situasi yang saling menguntungkan: sebuah bisnis yang mampu membantu komunitas yang jarang diperhatikan pihak lain.
"Orang-orang langsung berasumsi, 'Oh, apakah ini nirlaba?' Dan jawabannya tidak," ujar Bronson. "Tentu ada komponen misi yang kuat," lanjutnya, "dan saya telah mengabdikan hidup saya, sejak saya keluar dari penjara, untuk membantu saudara-saudari saya yang memiliki catatan kriminal."
"Sebagian dari alasan itu adalah karena saya merasa sangat menyesal atas kesalahan yang telah saya perbuat. Saya masih bangun setiap hari dengan menyesali pilihan-pilihan yang saya ambil."
Bronson menambahkan, "Kami mengejar pasar yang sangat besar dan belum terjamah oleh siapa pun." Ia memandang AI bukan hanya sebagai ancaman yang menghilangkan pekerjaan, melainkan sebagai alat untuk menciptakan lapangan kerja. "Kami membangun AI yang menciptakan pekerjaan bagi orang-orang yang telah dikesampingkan masyarakat," tegasnya.
Commissary Club berhasil terpilih untuk kompetisi bergengsi TechCrunch Startup Battlefield 200. Kompetisi ini akan berlangsung di ajang TechCrunch Disrupt pada 13-15 Oktober di San Francisco, Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor











:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482952/original/016557500_1769306120-Victor_Montagliani_1.jpg)