Samuel King Gunakan AI Generatif untuk Desain Cetak Biru Virus Baru

Samuel King, seorang mahasiswa program doktor di Universitas Stanford, berhasil mengembangkan cetak biru genetik untuk virus mikroskopis menggunakan model kecerdasan buatan generatif.
Terobosan dalam bidang bioteknologi ini menempatkan King sebagai salah satu inovator muda paling berpengaruh dalam daftar Innovators Under 35 versi MIT Technology Review tahun 2025. Penemuan tersebut membuka diskusi baru mengenai kemampuan teknologi digital dalam merancang bentuk kehidupan yang belum pernah ada sebelumnya di alam.
Meskipun saat ini hasilnya baru berupa rancangan instruksi genetik, banyak pakar memprediksi langkah selanjutnya adalah penciptaan kehidupan fungsional yang sepenuhnya dihasilkan oleh algoritma. King mengerjakan proyek riset ini di Arc Institute dengan fokus pada teknik bioengineering untuk memetakan struktur virus yang sangat kompleks. Hasil penelitiannya dianggap sebagai lompatan besar sejak teknologi komputasi mulai merambah sektor sains fundamental secara mendalam.
Kecerdasan buatan generatif kini tidak lagi sekadar menghasilkan teks atau gambar, melainkan mulai menyentuh kode kehidupan yang sangat rumit.
Penggunaan teknologi ini dalam biologi sering kali dibandingkan dengan kesuksesan AlphaGo saat mengalahkan juara dunia permainan Go, Lee Sedol, pada tahun 2016. Namun, para ahli melihat bahwa mekanisme yang digunakan oleh model bahasa besar saat ini belum sepenuhnya mengadopsi kreativitas manusia yang dibutuhkan untuk riset ilmiah terbuka.
James O'Donnell, jurnalis senior yang mengkhususkan diri pada isu kecerdasan buatan, akan membedah batasan kreativitas mesin ini dalam sebuah sesi diskusi khusus. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 16 Oktober pukul 18.30 waktu musim panas Inggris, atau sekitar pukul 00.30 WIB pada hari berikutnya bagi pemirsa di Indonesia. Para peserta akan diajak melihat bagaimana cara pandang baru terhadap biologi terbentuk melalui kacamata komputasi modern yang terus berkembang pesat.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor












