
Seorang pria berkebangsaan Ukraina bernama Serhii Kuznetsov menjalani persidangan di Hamburg pada Rabu pagi waktu setempat. Ia didakwa terlibat dalam aksi peledakan pipa gas Nord Stream milik Rusia yang menuju Jerman, sebuah insiden sabotase besar yang mengguncang Eropa empat tahun lalu.
Jaksa penuntut umum menyebut bahwa Kuznetsov memiliki peran kunci sebagai pemimpin tim yang menghancurkan pipa bawah laut tersebut. Tindakan ini dikategorikan sebagai kejahatan perang karena menyerang infrastruktur sipil dengan menggunakan alat militer.
Selama proses persidangan, pria berusia 50 tahun itu tampak tenang dan sesekali melempar senyum kepada orang-orang di ruang sidang yang penuh sesak. Ia bahkan memilih untuk tidak lagi menggunakan hak anonimitasnya setelah sebelumnya jaksa hanya mengidentifikasinya sebagai Serhii K.
Tim pembela yang dipimpin pengacara Italia, Nicola Canestrini, melayangkan protes keras terhadap substansi dakwaan jaksa. Canestrini menegaskan bahwa selama empat tahun penyelidikan, pihak berwenang Jerman gagal menemukan bukti forensik, sidik jari, maupun DNA yang mengaitkan kliennya dengan lokasi kejadian.
Selain itu, pihak pengacara berargumen bahwa status Kuznetsov sebagai tentara membuatnya terikat pada sumpah rahasia negara. Hal ini dinilai sebagai penghalang bagi terdakwa untuk memberikan keterangan pembelaan yang utuh karena ia tidak diizinkan membuka detail operasi rahasia yang ia jalankan di masa lalu.
Sebagai konteks, Nord Stream adalah jaringan pipa gas raksasa yang menghubungkan Rusia dan Jerman melalui Laut Baltik. Pipa ini sempat menjadi simbol ketergantungan energi Eropa terhadap Rusia sebelum akhirnya dihentikan operasionalnya pasca invasi ke Ukraina pada Februari 2022.
Jaksa Jerman sendiri tetap bersikukuh bahwa kasus ini berada di bawah yurisdiksi mereka karena menyangkut keamanan nasional Jerman. Dalam dakwaan mereka, tim penyelidik menyebut telah menemukan jejak bahan peledak bawah laut di atas kapal pesiar bernama Andromeda yang disewa oleh kelompok tersangka di pelabuhan Rostock.
Pemerintah Ukraina melalui Presiden Volodymyr Zelensky secara konsisten membantah keterlibatan negara mereka dalam sabotase tersebut. Namun, dokumen dakwaan Jerman justru menuding bahwa para pelaku bergerak atas instruksi dari badan-badan negara Ukraina.
Kasus ini memicu dinamika hukum yang cukup rumit di tingkat internasional. Sebelumnya, seorang tersangka lain bernama Volodymyr Zhuravlov sempat dibebaskan oleh pengadilan di Polandia dengan alasan bahwa aksi penyerangan terhadap pipa tersebut merupakan tindakan yang dapat dibenarkan dalam kondisi perang.
Kuznetsov sendiri ditangkap pada Agustus 2025 di sebuah hotel dekat Rimini, Italia, setelah otoritas Jerman mengeluarkan surat perintah penangkapan Eropa. Ia kemudian diekstradisi ke Jerman untuk mempertanggungjawabkan tuduhan tersebut di pengadilan Hamburg.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor