
Sebuah startup bernama Blueprints AI kini menarik perhatian industri arsitektur dunia. Perusahaan rintisan ini mengklaim mampu menghasilkan dokumen rancangan bangunan yang sesuai dengan kode peraturan daerah dan siap untuk pengajuan izin dalam waktu singkat.
Teknologi ini lahir dari ide Al Dram hampir dua dekade silam saat ia masih menempuh pendidikan arsitektur. Kala itu, ia membayangkan sebuah perangkat lunak yang bisa mengotomatisasi dokumen desain sekolah, namun keterbatasan teknologi di masa lalu menjadi hambatan utama dalam mewujudkan gagasannya.
Situasi berubah drastis setelah OpenAI merilis ChatGPT pada akhir 2022. Dram menyadari bahwa model bahasa besar yang ada saat ini dapat digunakan untuk merealisasikan konsep lamanya menjadi kenyataan, sehingga ia mulai membangun Blueprints AI bersama rekan pendirinya, Coco Cao.
Blueprints AI resmi didirikan pada 2025 di Santa Monica dan kini terpilih menjadi bagian dari Startup Battlefield 200 di ajang TechCrunch Disrupt 2026. Acara tersebut diselenggarakan di San Francisco pada 13 hingga 15 Oktober 2026, menjadi panggung bagi startup tahap awal yang memiliki potensi inovasi tinggi.
Dram sendiri bukanlah sosok asing di dunia konstruksi, mengingat ia memiliki latar belakang pendidikan arsitektur dari University of Tehran dan pengalaman mendalam di industri tersebut. Ia sebelumnya mengelola firma Drams Design-Build dan bisnis konstruksi yang dijalankan sejak 2021.
Namun, Dram merasa perlu ada perubahan besar dalam efisiensi pekerjaan arsitek. Ia mencatat bahwa seorang arsitek profesional biasanya menghabiskan sekitar 80 persen waktunya hanya untuk urusan menggambar teknis atau drafting, sementara porsi untuk mendesain secara kreatif hanya mencapai 20 persen.
Melalui perangkat lunak ini, ia ingin membalik rasio tersebut agar para profesional memiliki lebih banyak waktu untuk berkarya. Blueprints AI dirancang untuk mengambil alih tugas repetitif dalam pembuatan draf gambar konstruksi yang menyita waktu tersebut.
Sistem ini menggunakan data dari delapan tahun set gambar yang disetujui dari firma milik Dram sebagai dasar pelatihan model AI. Pelanggan dapat mengakses layanan ini dengan biaya berlangganan antara USD 3.200 hingga USD 8.500 per bulan (sekitar Rp50 juta hingga Rp133 juta), dengan opsi harga khusus untuk perusahaan besar.
Versi terbaru perangkat lunak ini memungkinkan pengguna membuat cetak biru lengkap untuk arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal, hingga desain interior hanya dari sebuah sketsa atau dokumen PDF. Setiap perubahan pada desain akan secara otomatis memperbarui seluruh bagian proyek dan melakukan pengecekan terhadap regulasi bangunan setempat.
Meskipun mampu mengotomatisasi proses teknis, pendiri startup ini menegaskan bahwa teknologi tersebut tidak akan menggantikan peran arsitek berlisensi. Para profesional tetap harus meninjau seluruh dokumen dan membubuhkan stempel resmi sebelum izin diajukan ke pihak berwenang guna menjaga akurasi serta tanggung jawab hukum.
Saat ini, Blueprints AI menyasar target pasar yang terdiri dari firma arsitektur, teknik, serta pengembang properti. Mereka juga berencana menghadirkan opsi pembayaran sekali bayar bagi pengguna yang hanya membutuhkan layanan untuk satu proyek spesifik di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor