Perusahaan ini juga baru-baru ini dikritik oleh Electronic Frontier Foundation (EFF), sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada hak-hak digital. EFF menuduh Google dan perusahaan lain "memilih untuk berpaling" terhadap penggunaan layanan mereka oleh Israel.
Project Nimbus juga mendapatkan dukungan dari Amazon. Microsoft pun sempat dikritik karena dukungannya terhadap militer Israel, meskipun perusahaan tersebut membatasi penggunaan teknologinya oleh pemerintah Israel setelah penyelidikan menemukan bahwa layanan cloud mereka digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga Palestina.
Protes mahasiswa ini juga menuai kritik dari para pemimpin bisnis di ranah daring. Vinod Khosla, miliarder salah satu pendiri Sun Microsystems dan salah satu pemodal ventura terkemuka di Silicon Valley, melalui platform X menyebut protes itu "bias, idiotik, picik, dan sangat egois." Menurut Khosla, sikap egois itu lantaran mahasiswa "mengabaikan 3 miliar orang terbawah di planet ini yang bisa mendapatkan manfaat dari AI, namun justru mengkhawatirkan kepentingan pribadi mereka yang salah informasi."
Kehadiran Pichai di Stanford sebenarnya merupakan bagian dari pola yang lebih luas. Para pembicara di upacara wisuda perguruan tinggi di seluruh Amerika Serikat kerap menghadapi sorakan ketika berusaha membangkitkan semangat para mahasiswa tentang potensi kecerdasan buatan.
Namun, kebencian mahasiswa terhadap Pichai sangatlah terarah; bukan pada hype AI, melainkan pada keputusan bisnis spesifik yang dibuat oleh perusahaan yang ia pimpin. Generasi muda secara umum merasa bahwa AI mengancam peluang kerja mereka dan berpotensi merusak aspek lain dalam masyarakat.