Apple memang menjual banyak perangkat lain yang mengandung chip memori (DRAM) dan penyimpanan (NAND), termasuk Apple Watch, Mac, iPad, dan Apple Vision Pro. Namun, iPhone sebagai produk terlarisnya, tetap menjadi perhatian utama.
Belum jelas seberapa besar kenaikan harga produk-produk tersebut, meskipun perusahaan riset TechInsights memberikan estimasi kepada The Wall Street Journal. Menurut TechInsights, Apple perlu menambahkan sekitar USD 270 (sekitar Rp4,4 juta) pada harga iPhone Pro berikutnya untuk menjaga margin keuntungannya tetap utuh, mengingat iPhone 17 Pro saat ini dibanderol mulai dari USD 1.099 (sekitar Rp17,9 juta).
Sejauh ini, AI belum menjadi keuntungan besar bagi Apple. Perusahaan tersebut justru berada di bawah tekanan untuk merumuskan strategi AI yang lebih matang untuk perangkat-perangkatnya.
Bahkan, awal tahun ini Apple harus membayar ganti rugi sebesar USD 250 juta (sekitar Rp4 triliun) untuk mengakhiri gugatan iklan palsu, setelah gagal menghadirkan fitur-fitur AI yang dijanjikan dua tahun lalu.
Konferensi Pengembang Sedunia (WWDC) yang diadakan awal bulan ini menunjukkan kemajuan dalam memenuhi janji-janji AI sebelumnya, termasuk perombakan besar-besaran pada Siri. Peningkatan pemrosesan pada perangkat ini berpotensi membutuhkan lebih banyak memori, sebuah tren yang diprediksi akan berujung pada pembayaran yang lebih tinggi oleh konsumen untuk produk-produk Apple.