AS Larang DeepSeek di Instansi Pemerintah karena Risiko Keamanan Data

Pemerintah Amerika Serikat menginstruksikan seluruh lembaga sipil federal untuk segera menghapus layanan kecerdasan buatan DeepSeek dari sistem komputer pemerintah. Larangan ini mencakup penggunaan aplikasi langsung maupun layanan pihak ketiga yang menggunakan infrastruktur teknologi asal China tersebut.
Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa model kecerdasan buatan tersebut memiliki berbagai vektor ancaman yang dapat membahayakan keamanan nasional. Penggunaan teknologi ini dikhawatirkan memicu transfer data sensitif kepada Pemerintah China jika digunakan oleh pegawai negeri atau vendor pemerintah. Selain itu, sistem ini dianggap mampu menghasilkan intelijen yang dapat ditindaklanjuti untuk menargetkan individu maupun instansi di Amerika Serikat.
Perintah resmi ini mewajibkan seluruh badan pemerintah untuk berhenti membeli layanan DeepSeek dalam bentuk apa pun.
DeepSeek merupakan model sumber terbuka yang sebenarnya dapat dijalankan secara lokal atau melalui penyedia layanan apa saja tanpa harus bergantung pada server di China. Sebagai contoh, perusahaan teknologi Perplexity menjalankan peladennya sendiri yang berlokasi di Amerika Serikat untuk mengoperasikan model tersebut.
Meskipun demikian, pengembang utama DeepSeek tetap mengoperasikan versi layanan mereka pada infrastruktur server yang berada di wilayah kedaulatan China. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kontrol data oleh otoritas setempat bagi pengguna yang mengakses situs resminya secara langsung. Kebijakan pelarangan yang diterbitkan pada Senin lalu ini juga menjangkau aplikasi dari pihak ketiga yang dikembangkan menggunakan basis teknologi DeepSeek.
Langkah tegas ini merupakan kelanjutan dari memo internal pada Juli 2024 yang meminta setiap lembaga memantau lalu lintas data keluar masuk situs web pemerintah.
Sebelum keputusan ini diumumkan, Departemen Perdagangan dan Angkatan Laut Amerika Serikat sudah lebih dulu melarang penggunaan DeepSeek pada perangkat dinas. Beberapa negara bagian seperti New York, Tennessee, dan Virginia juga telah mengambil langkah serupa demi melindungi privasi data warga mereka. Hingga saat ini, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan pernyataan resmi mengenai pembatasan teknologi tersebut.
Startup asal Hangzhou ini mulai menjadi pusat perhatian dunia pada 27 Januari 2025 ketika model buatannya mengguncang pasar modal global. Model tersebut berhasil dikembangkan dengan biaya kurang dari USD 5 juta (sekitar Rp81,2 miliar) namun memiliki kemampuan yang setara dengan model tercanggih milik Amerika Serikat. Kehadiran teknologi yang efisien ini sempat menyebabkan harga saham Nvidia anjlok hingga 16 persen dalam satu hari perdagangan.
Kejatuhan saham tersebut menghapus nilai kapitalisasi pasar Nvidia hingga USD 600 miliar (sekitar Rp9.750 triliun). Secara keseluruhan, sektor teknologi Amerika Serikat diperkirakan kehilangan nilai pasar mencapai USD 1 triliun (sekitar Rp16.250 triliun) pada periode yang sama.
Ketakutan pasar muncul karena DeepSeek membuktikan bahwa teknologi AI tingkat tinggi bisa dijalankan dengan biaya yang jauh lebih murah.
Otoritas perlindungan data Italia turut mengambil tindakan dengan memerintahkan DeepSeek untuk memblokir layanan chatbot miliknya hanya beberapa hari setelah peluncuran global. Keputusan ini diambil setelah perusahaan tersebut dianggap gagal memberikan jawaban yang memadai mengenai mekanisme perlindungan privasi pengguna. Italia menilai transparansi perusahaan dalam mengelola data pribadi masyarakat masih sangat rendah dan berisiko tinggi.
Pada April 2025, komite khusus Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menuduh DeepSeek secara rahasia mengirimkan data pengguna di Amerika Serikat kepada pemerintah China. Komite tersebut juga mengeklaim adanya penyalahgunaan ribuan cip canggih dalam proses pengembangan teknologi mereka.
DeepSeek diduga menggunakan sekitar 60.000 cip grafis Nvidia, termasuk 20.000 unit yang sebenarnya masuk dalam daftar pembatasan ekspor Amerika Serikat.
Meski menghadapi tekanan politik dan hukum, perusahaan rintisan ini terus merilis inovasi terbaru dengan harga yang sangat kompetitif di pasar global. Model V4 Pro yang dirilis pada April 2024 dibanderol dengan harga 98 persen lebih murah dibandingkan GPT 5.5 Pro milik OpenAI. Strategi harga rendah ini bertujuan untuk menarik basis pengguna yang lebih luas melalui skema lisensi yang memungkinkan modifikasi secara bebas.
Pekan ini, mereka meluncurkan versi pembaruan V4.1 Flash yang diklaim jauh lebih efisien dengan peningkatan kualitas yang signifikan dibandingkan versi sebelumnya. Pengembang mengejar efisiensi komputasi agar teknologi ini tetap bisa diakses oleh perusahaan dengan anggaran infrastruktur terbatas.
Langkah pembersihan teknologi China di lingkungan birokrasi ini terjadi menjelang pemungutan suara Komisi Komunikasi Federal pada akhir Oktober mendatang. Agenda utama pertemuan tersebut adalah pembahasan larangan bagi seluruh laboratorium asal China untuk melakukan pengujian perangkat elektronik yang akan dipasarkan di Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor






:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564420/original/004586000_1776939924-Luis_Enrique.jpg)





