
Perusahaan pengelola aset kripto, DeFi Development Corp, baru saja mempertebal kepemilikan Solana dalam kas perusahaan sebesar 26.202 SOL.
Nilai pembelian tersebut diperkirakan mencapai USD 3 juta, atau setara dengan Rp46,8 miliar dengan asumsi kurs Rp15.600 per dolar AS. Transaksi ini dilaporkan terjadi dalam periode 28 September hingga 2 Oktober.
Berdasarkan data yang dilaporkan ke otoritas pasar modal Amerika Serikat melalui formulir 8-K, perusahaan dengan kode saham DFDV yang tercatat di bursa Nasdaq ini kini menguasai total 2.564.212 SOL. Nilai total aset kripto tersebut saat ini mencapai USD 302 juta atau sekitar Rp4,7 triliun.
Meski kepemilikan bertambah, laju akumulasi perusahaan mulai menunjukkan tren melambat dibandingkan periode sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada pekan yang berakhir 18 September, perusahaan mampu menambah sebanyak 101.381 SOL.
CEO DeFi Development Corp, Joseph Onorati, memberikan tanggapan berbeda terkait data tersebut. Ia mengklaim bahwa operasional perusahaan tetap berjalan sangat cepat dan telah mencatatkan pertumbuhan kas sebesar 11 persen sejak pertengahan Agustus.
Perusahaan ini mengadopsi model bisnis perusahaan perbendaharaan aset digital atau digital asset treasury. Strategi utamanya berfokus pada akumulasi aset kripto dalam neraca keuangan dengan menjalankan validator sendiri guna mendapatkan imbal hasil dari jaringan blockchain tersebut.
Bagi investor ritel, model ini menawarkan jalan pintas untuk memiliki eksposur terhadap aset SOL melalui akun broker konvensional tanpa harus mengelola dompet digital secara mandiri. Perusahaan mendesain produknya agar pergerakan harga saham lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai Solana di pasar.
Untuk menambah modal operasional, mereka menerbitkan saham preferen yang disebut CHAD. Saham ini menawarkan dividen sebesar 13 persen per tahun dengan nilai nominal USD 10 per lembar, yang menjanjikan imbal hasil rutin bagi para pemegang sahamnya.
Namun, model bisnis perbendaharaan aset digital memiliki tantangan tersendiri terkait nilai premium saham. Pertumbuhan perusahaan jenis ini sangat bergantung pada kemampuan mereka menjual saham di atas nilai intrinsik aset kripto yang mereka simpan.
Sejarah mencatat bahwa ketika harga saham jatuh di bawah nilai aset kripto yang mendasarinya, pertumbuhan perusahaan cenderung mengalami stagnasi. Hal ini sempat dialami oleh beberapa perusahaan sejenis di pasar global pada akhir tahun 2025.
Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia kripto, perusahaan ini dikenal dengan nama Janover, sebuah platform properti komersial. Transformasi bisnis yang dilakukan pada tahun 2025 menjadi titik balik bagi perusahaan untuk mengubah fokus ke pasar Solana secara masif.
Hingga saat ini, DeFi Development Corp masih menempati posisi sebagai pemegang aset Solana terbesar kedua di dunia. Perusahaan terus berkomitmen memberikan dividen harian kepada pemegang saham CHAD hingga akhir Oktober mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor