ENS Ajukan Upgrade Protokol ke Versi Terbaru untuk Ekosistem Ethereum

Ethereum Name Service (ENS) saat ini tengah mengupayakan persetujuan dari organisasi otonom terdesentralisasi atau DAO miliknya untuk mengaktifkan protokol penamaan versi terbaru. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengimplementasikan ENSv2 pada jaringan utama Ethereum guna memperbarui arsitektur sistem identitas kripto tersebut.
Pendiri ENS, Nick Johnson, telah menyerahkan draf proposal eksekusi yang merinci langkah teknis guna mengaktifkan versi protokol yang lebih mutakhir ini.
Apabila usulan tersebut mendapatkan lampu hijau, proses pendaftaran domain baru dengan akhiran dot eth akan dibekukan sementara pada sistem lama. Namun, pemilik domain yang sudah ada tetap dapat memperpanjang masa aktif nama mereka tanpa harus segera melakukan migrasi ke sistem baru. Hal ini memberikan ruang bagi pengguna lama agar tidak perlu terburu-buru melakukan transisi teknis yang mendadak.
Pembaruan ini memperkenalkan desain arsitektur registri yang telah dirancang ulang untuk memberikan pengelolaan domain dan pengaturan izin yang lebih fleksibel bagi para penggunanya. Setelah aktivasi berhasil dilakukan, ENS Labs berencana untuk menyerahkan sisa kendali administratif atas kontrak yang telah ditingkatkan tersebut secara penuh kepada pihak DAO.
Proses transisi sistem ini diperkirakan akan menyebabkan layanan pendaftaran domain baru tidak tersedia sama sekali selama beberapa jam.
Bagi pemegang domain yang sudah ada, migrasi ke sistem baru bersifat opsional dan nama yang mereka miliki akan tetap berfungsi secara normal seperti biasa. ENS Labs juga memastikan telah memesan nama dot eth yang sudah ada untuk pemilik saat ini pada sistem yang ditingkatkan tersebut. Skema proteksi ini memungkinkan pengguna untuk melakukan migrasi secara mandiri kapan pun mereka merasa sudah siap untuk beralih.
Proposal aktivasi ini masih berada dalam tahap draf awal dan harus melewati proses pemungutan suara secara onchain oleh para pemegang token sebelum dapat diterapkan secara resmi.
Berdasarkan aturan tata kelola yang berlaku, proposal eksekusi membutuhkan partisipasi pemilih minimal satu persen dari total pasokan token yang ada. Angka tersebut setara dengan 1.000.000 suara ENS yang harus terkumpul dengan dukungan suara mayoritas selama periode pemungutan suara yang berlangsung selama tujuh hari. Mekanisme ini memastikan bahwa setiap perubahan besar pada protokol mendapatkan dukungan yang luas dari komunitas pemegang aset.
Jika usulan tersebut akhirnya disetujui, upgrade akan masuk ke dalam masa penguncian waktu atau timelock selama setidaknya dua hari sebelum benar-benar dieksekusi oleh sistem secara otomatis. Hingga saat ini, jadwal resmi untuk memulai pemungutan suara tersebut masih belum diumumkan secara terbuka oleh pihak pengembang. Penundaan ini dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi komunitas dalam meninjau kode teknis yang diusulkan.
ENS sendiri merupakan sistem penamaan terdistribusi yang mengubah alamat dompet kripto yang rumit menjadi nama yang mudah dibaca oleh manusia. Sebagai gambaran, deretan karakter alfanumerik yang panjang dan sulit diingat dapat diubah menjadi nama pribadi sederhana guna mempermudah pengiriman aset digital.
Implementasi ENSv2 dianggap sebagai langkah besar dalam peta jalan pengembangan protokol ini untuk menekan biaya transaksi yang sering kali mahal di jaringan utama. Banyak pihak di komunitas aset digital mengharapkan transisi ini dapat membawa sebagian fungsi protokol ke jaringan lapis kedua yang menawarkan biaya lebih terjangkau.
Keberhasilan pemungutan suara ini nantinya akan menjadi tonggak baru bagi desentralisasi tata kelola dalam ekosistem blockchain dunia. Dengan menyerahkan kontrol administratif kepada DAO, tim pengembang menunjukkan komitmen nyata untuk membiarkan komunitas menentukan arah masa depan protokol secara kolektif.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor











