
Pengembang Bitcoin senior Paul Sztorc melontarkan kritik tajam mengenai efektivitas Lightning Network yang dianggap tidak sesuai dengan narasi publik saat ini. Ia menilai komunitas aset kripto tersebut cenderung membohongi diri sendiri mengenai kenyataan pengalaman pengguna dalam jaringan pembayaran lapis kedua itu.
Kritik ini mencuat di tengah perdebatan panjang mengenai apakah teknologi tersebut benar-benar mampu menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran praktis sehari-hari. Melalui unggahan di media sosial, Sztorc menyatakan bahwa ada upaya sistematis selama bertahun-tahun untuk menutupi kekurangan teknis yang dialami pengguna saat bertransaksi.
Sztorc menyamakan promosi masif jaringan ini dengan skandal Theranos, sebuah perusahaan rintisan di Silicon Valley yang terbukti melakukan penipuan terkait teknologi uji darah. Ia berargumen bahwa sebagian besar transaksi yang terjadi saat ini tidak benar-benar bersifat desentralisasi.
Menurut analisisnya, lebih dari 80 persen pembayaran di jaringan tersebut menggunakan layanan kustodian atau pihak ketiga yang memegang kendali dana pengguna. Hal ini dianggap mencederai prinsip utama Bitcoin yang mengedepankan kedaulatan penuh pengguna atas aset mereka sendiri tanpa perantara.
Lightning Network dirancang untuk memproses transaksi Bitcoin secara lebih cepat dan murah tanpa harus mencatat setiap detail kecil pada rantai blok utama. Namun, mekanisme teknis yang mendasarinya sering kali menciptakan hambatan besar bagi pengguna individu maupun pelaku usaha yang ingin menggunakannya secara mandiri.
Sztorc menegaskan bahwa banyak orang tidak menyadari betapa buruknya performa jaringan tersebut akibat kampanye informasi yang tidak akurat.
Dalam ekosistem keuangan tradisional, pengguna cukup menempelkan kartu atau menekan tombol untuk menyelesaikan pembayaran secara instan. Sebaliknya, Lightning Network mengandalkan saluran pembayaran rumit yang membutuhkan ketersediaan likuiditas pada titik dan waktu yang tepat agar transaksi berhasil dilakukan.
Proses pengiriman dana melalui berbagai titik penghubung atau node sering kali mengalami kegagalan, terutama untuk transaksi dalam jumlah besar. Kesulitan teknis ini menjadi penghalang bagi adopsi massal oleh masyarakat umum yang menginginkan kemudahan tanpa kerumitan teknis.
Bahkan Alex Bosworth yang menjabat sebagai kepala likuiditas di jaringan tersebut mengakui adanya tantangan besar dalam hal kecepatan transaksi. Ia menyatakan bahwa sistem yang mengedepankan privasi dan hubungan antar-pengguna secara langsung ini memang terasa sangat lambat jika dibandingkan dengan sistem pembayaran sekali tap.
Mengelola infrastruktur mandiri dalam jaringan ini memerlukan keahlian teknis tingkat tinggi yang jauh melampaui kapasitas pengguna rata-rata. Kondisi inilah yang mendorong tingginya penggunaan layanan kustodian karena dianggap lebih praktis meskipun mengorbankan prinsip desentralisasi.
Meskipun kritik mengalir deras, sejumlah penyedia infrastruktur tetap optimis terhadap perkembangan teknologi ini di masa depan. Jesse Shrader selaku pimpinan Amboss menyatakan bahwa masalah likuiditas sebenarnya cukup mudah diselesaikan dengan bantuan alat otomatisasi yang tersedia saat ini.
Data dari simulasi mereka menunjukkan bahwa pembayaran dalam skala USD 100 (sekitar Rp1,56 juta) memiliki tingkat keberhasilan hingga 99,66 persen di jaringan inti. Angka ini dianggap sebagai tolok ukur positif meskipun pengalaman nyata setiap pengguna di lapangan bisa sangat bervariasi.
Laporan dari perusahaan layanan keuangan River mencatat bahwa volume transaksi jaringan ini mencapai USD 1,17 miliar (sekitar Rp18,25 triliun) pada November 2025. Total tersebut mencakup 5,22 juta transaksi yang diproses hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.
Walaupun angka volume transaksi tersebut terlihat mengesankan, jumlah total transaksi sebenarnya masih berada di bawah angka puncak yang pernah dicapai pada Agustus 2023. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan nilai aset yang bergerak tidak selalu diikuti oleh peningkatan frekuensi penggunaan oleh masyarakat luas.
Danny Stagg dari perusahaan infrastruktur Breez berpendapat bahwa sebagian besar kritik yang ditujukan pada pengalaman pengguna saat ini sudah tidak relevan lagi. Ia menilai infrastruktur terbaru telah berhasil menyederhanakan berbagai kerumitan teknis sehingga pengguna tidak perlu lagi pusing memikirkan manajemen saluran pembayaran.
Kemajuan dalam alat pemrograman berbasis kecerdasan buatan juga diklaim memudahkan para pengembang untuk membangun aplikasi berbasis Bitcoin. Stagg menyebutkan bahwa kualitas layanan tanpa perantara kini sudah mulai setara dengan layanan yang menggunakan pihak ketiga.
Namun, minat pengembang yang tinggi belum tentu menjadi jaminan bahwa penggunaan untuk transaksi kopi atau belanja harian akan meningkat secara signifikan. Banyak pihak menilai kemajuan teknis di balik layar sering kali disalahartikan sebagai tanda bahwa teknologi ini sudah siap digunakan oleh publik secara luas.
Kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang mampu dilakukan oleh teknologi ini secara teoritis dengan apa yang benar-benar dilakukan pengguna. Perdebatan mengenai masa depan jaringan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut seiring dengan tuntutan transparansi data yang lebih akurat.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor