
Para investor saat ini harus bersabar menunggu pengumuman resmi mengenai jumlah Bitcoin yang ditambahkan oleh MicroStrategy ke dalam perbendaharaan perusahaan mereka pada awal Oktober.
Ketua MicroStrategy, Michael Saylor, memberikan isyarat melalui media sosial X dengan menyatakan bahwa selalu ada ruang untuk menambah porsi aset tersebut. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap rasa penasaran pelaku pasar mengenai langkah agresif perusahaan setelah mereka menutup bulan September dengan aktivitas pembelian yang cukup masif.
Namun, kepastian mengenai volume pembelian tersebut kemungkinan besar baru akan terungkap pada hari Selasa waktu setempat. Hal ini disebabkan karena kantor federal di Amerika Serikat tutup pada hari Senin untuk merayakan liburan Columbus Day, sehingga pengajuan laporan resmi ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) tertunda.
Berdasarkan laporan SEC pada 5 Oktober, MicroStrategy mencatatkan pembelian sebanyak 334 Bitcoin dengan nilai USD 28,7 juta (sekitar Rp448 miliar) selama periode 28 September hingga 4 Oktober. Aksi korporasi tersebut menggenapkan total kepemilikan aset kripto perusahaan menjadi 848.000 BTC.
Menariknya, pada periode yang sama, perusahaan ini juga melakukan pembelian kembali saham preferen senilai USD 176,3 juta (sekitar Rp2,75 triliun). Langkah ini dinilai sebagai cara perusahaan dalam menjaga keseimbangan neraca keuangan sembari tetap mempertahankan minat terhadap aset kripto.
Analis independen, Shanaka Anslem Perera, menyoroti bahwa sepanjang kuartal ketiga, MicroStrategy berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 5,41 miliar (sekitar Rp84,4 triliun) melalui penerbitan saham baru. Dana tersebut tidak sepenuhnya dialokasikan untuk Bitcoin karena sebagian digunakan untuk cadangan kas, dividen, dan pembayaran kembali saham preferen.
Perera menjelaskan bahwa bagi pemegang saham, metrik Bitcoin per lembar saham hanyalah satu bagian dari gambaran besar. Keputusan manajemen untuk memperkuat kas dinilai sebagai langkah strategis yang memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk melakukan pembelian Bitcoin di masa depan saat kondisi pasar dirasa lebih tepat.
Strategi keuangan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada akumulasi aset kripto semata. Penguatan struktur permodalan dianggap bermanfaat untuk jangka panjang dan dapat memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
Hingga saat ini, komunitas kripto global terus memantau setiap langkah MicroStrategy sebagai indikator utama sentimen pasar institusional. Kebijakan Michael Saylor yang sangat pro-Bitcoin tetap menjadi poin perhatian utama bagi para pelaku pasar yang ingin memprediksi arah pergerakan harga aset digital di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor