
Sebuah koalisi bursa efek terkemuka, termasuk Nasdaq dan Boerse Stuttgart, baru saja mengajukan permohonan resmi kepada Uni Eropa.
Mereka meminta otoritas terkait untuk segera menghapus atau menaikkan ambang batas nilai dalam uji coba teknologi tokenisasi aset keuangan. Langkah ini dilakukan agar pasar aset digital di kawasan tersebut lebih kompetitif.
Permohonan ini muncul karena regulasi saat ini dinilai menghambat inovasi. Batas nilai yang ada sekarang dianggap terlalu rendah untuk memfasilitasi transaksi dalam skala industri yang lebih besar.
Beberapa proyek yang tengah berjalan di Eropa bahkan telah melampaui batas yang ditetapkan dalam regulasi uji coba tersebut. Hal ini menciptakan kendala operasional bagi perusahaan yang ingin mengadopsi teknologi buku besar terdistribusi atau DLT.
DLT adalah teknologi di balik aset kripto yang memungkinkan pencatatan transaksi secara terdesentralisasi dan transparan. Penggunaan teknologi ini di pasar saham bertujuan mempercepat proses penyelesaian transaksi hingga real-time.
Saat ini, batasan nilai yang diterapkan Uni Eropa menjadi penghalang utama bagi institusi besar untuk melakukan eksperimen lebih luas. Tanpa penyesuaian, perusahaan khawatir mereka akan tertinggal dari inovasi pasar modal di wilayah lain seperti Amerika Serikat atau Asia.
Ketua koalisi tersebut menegaskan bahwa pasar membutuhkan ruang bernapas agar teknologi baru dapat berkembang secara alami. Mereka mengusulkan adanya fleksibilitas lebih besar dalam pengawasan pasar keuangan digital.
Pihak regulator Uni Eropa sebenarnya telah mencoba menyeimbangkan antara perlindungan investor dan inovasi teknologi. Namun, tekanan dari pelaku pasar untuk melonggarkan aturan semakin menguat seiring dengan meningkatnya adopsi aset berbasis token.
Jika permintaan ini disetujui, perusahaan seperti Nasdaq dapat lebih leluasa menguji platform perdagangan berbasis blockchain secara komprehensif. Ini akan memungkinkan volume perdagangan yang jauh lebih tinggi daripada batasan saat ini yang bernilai jutaan Euro.
Sebagai informasi, Uni Eropa memang sedang gencar memperketat aturan aset kripto melalui kerangka kerja MiCA, atau Markets in Crypto-Assets. Regulasi ini mencakup hampir seluruh aspek terkait aset digital untuk memastikan stabilitas sistem keuangan di wilayah tersebut.
Namun, dalam konteks uji coba khusus untuk sistem perdagangan saham, para pelaku industri merasa batasan tersebut perlu dievaluasi kembali. Fleksibilitas dalam uji coba adalah kunci untuk transisi menuju sistem keuangan digital yang lebih efisien di masa depan.
Para pelaku bursa berharap dialog dengan regulator dapat segera menghasilkan keputusan konkret. Mereka tidak menginginkan hambatan birokrasi menghentikan arus investasi dalam pengembangan infrastruktur pasar modal generasi terbaru di Benua Biru.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor