Skandal Perangkat Keras Ledger Meluas ke Eropa dan Ancaman Bug XRP Terungkap

Kasus peredaran perangkat keras dompet kripto Ledger yang telah dimodifikasi secara ilegal kini dilaporkan menjangkau pasar Eropa. Seorang pengguna di platform X yang dikenal dengan nama Johannes mengklaim telah menemukan perangkat Ledger yang telah dirusak setelah membelinya dari jaringan ritel elektronik besar, MediaMarkt.
Perangkat tersebut diduga mengandung perangkat keras tambahan atau implan yang memungkinkan pihak asing mencuri aset digital pengguna. Penemuan ini memicu kekhawatiran karena insiden serupa sebelumnya telah memakan korban di Asia dengan kerugian yang ditaksir mencapai USD 93,4 juta (sekitar Rp1,4 triliun).
Johannes menemukan implan tersebut pada dua perangkat berbeda yang ia beli dari gerai MediaMarkt yang berlainan, sebuah indikasi bahwa masalah ini mungkin bersifat sistemik. Mantan CEO Mt Gox, Mark Karpeles, menyatakan bahwa antena yang ditemukan dalam perangkat tersebut merupakan versi Eurasia yang disesuaikan dengan frekuensi seluler spesifik di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, Ledger belum memberikan konfirmasi resmi mengenai keterkaitan perangkat di Eropa dengan insiden yang sebelumnya melibatkan pengecer resmi CryptoBilis di Asia. Perusahaan telah mengimbau pelanggan yang membeli perangkat dalam 90 hari terakhir untuk segera memindahkan aset mereka ke dompet baru sebagai langkah pencegahan.
Di sisi lain, dunia keamanan siber dikejutkan dengan penemuan celah keamanan atau bug kritis pada jaringan XRP Ledger yang berpotensi menciptakan hingga 18 triliun XRP secara ilegal. Perusahaan keamanan siber Veria Labs menerima hadiah sebesar USD 250.000 (sekitar Rp3,9 miliar) setelah berhasil mendeteksi dan melaporkan kerentanan tersebut kepada pengembang.
Celah ini berakar pada dua bug tingkat rendah yang jika digabungkan dapat memicu overflow atau luapan data dalam kode sistem. Cayden Liao, salah satu pendiri Veria Labs, mengungkapkan bahwa satu transaksi eksploitasi saja dapat menghasilkan jumlah koin yang jauh melebihi total pasokan XRP yang ada saat ini.
Beruntung, tim RippleX telah merilis pembaruan perangkat lunak untuk menambal celah tersebut pada akhir September lalu. Tidak ada bukti bahwa kerentanan ini sempat dieksploitasi oleh pihak mana pun sebelum akhirnya diperbaiki oleh pengembang jaringan.
Isu keamanan kripto belakangan ini kian kompleks dengan peringatan dari pakar mengenai potensi kecerdasan buatan dalam memecahkan kode kriptografi modern. Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, mendukung pandangan bahwa kemajuan teknologi AI harus diwaspadai karena berisiko mengancam keamanan data di masa depan.
Situasi pasar kripto saat ini pun sedang mengalami tekanan dengan penurunan harga pada aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum. Sementara itu, regulasi terkait mata uang digital di Amerika Serikat masih terus menjadi subjek perdebatan politik, terutama mengenai keseimbangan dukungan antara partai Demokrat dan Republik.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor














