
Startup kecerdasan buatan, Manus, berhasil mengumpulkan pendanaan baru senilai lebih dari USD 500 juta atau sekitar Rp7,9 triliun.
Langkah ini diambil perusahaan induk mereka, Butterfly Effect, setelah upaya akuisisi senilai USD 2 miliar oleh raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Meta, dibatalkan secara paksa oleh pemerintah Tiongkok.
Dalam keterangan melalui platform WeChat, Butterfly Effect mengonfirmasi bahwa putaran pendanaan ini dipimpin oleh Boyu Capital dan IDG Capital. Sejumlah investor lama seperti Tencent, HSG yang sebelumnya dikenal sebagai Sequoia China, serta ZhenFund juga turut berpartisipasi dalam suntikan modal ini.
Meski tidak merinci alokasi dana tersebut, perusahaan menyatakan rencana untuk terus menambah jumlah tenaga kerja baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Meskipun nilai valuasi resmi tidak diungkap, Bloomberg sempat melaporkan target valuasi perusahaan mencapai USD 4 miliar atau sekitar Rp63,5 triliun, angka yang dua kali lipat dari harga tawaran awal Meta.
Manus sendiri dikenal sebagai pengembang agen AI yang mampu mengeksekusi tujuan tertentu secara mandiri, berbeda dengan chatbot konvensional yang hanya menjawab pertanyaan. Software ini mampu menangani tugas kompleks seperti memesan perjalanan hingga melakukan analisis saham.
Saat pertama kali diluncurkan pada Maret 2025, akses ke layanan ini sangat terbatas dan hanya tersedia melalui undangan. Tingginya permintaan membuat kode undangan sempat diperjualbelikan di pasar sekunder Tiongkok hingga mencapai harga 10 juta yuan atau sekitar Rp21 miliar.
Secara teknis, Manus membangun sistem mereka dengan memanfaatkan model Claude milik Anthropic dan versi yang telah disesuaikan dari model Qwen karya Alibaba. Mereka mengklaim telah bereksperimen dengan kemampuan agen AI jauh sebelum teknologi tersebut menjadi tren utama di industri.
Menghadapi tekanan regulasi yang semakin ketat, perusahaan sempat memindahkan operasional tim ke Singapura pada pertengahan 2025. Langkah ini dibarengi dengan penutupan sebagian besar aktivitas bisnis di Tiongkok serta pemutusan hubungan kerja terhadap puluhan staf pada bulan Juli.
Transformasi strategis tersebut membuahkan hasil dengan capaian pendapatan berulang tahunan sebesar USD 100 juta dalam waktu delapan bulan. Namun, proses akuisisi oleh Meta yang diumumkan pada Desember 2025 harus kandas di tengah jalan.
Kementerian Perdagangan Tiongkok mulai menginvestigasi kesepakatan tersebut pada Januari. Puncaknya, pada April 2026, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok melarang investasi asing pada Manus dengan alasan kepatuhan hukum.
Kini, Manus kembali beroperasi secara mandiri dan meluncurkan layanan baru bernama Cue. Produk ini memungkinkan agen AI memiliki nomor telepon serta dompet digital sendiri yang dilengkapi batasan anggaran sesuai preferensi pengguna.
Fenomena ini mencerminkan kebijakan Beijing yang semakin memperketat kontrol terhadap tenaga ahli AI di sektor swasta. Sejak Mei, perusahaan besar termasuk Alibaba dan DeepSeek bahkan diwajibkan meminta izin pemerintah sebelum mengirim staf senior mereka ke luar negeri agar keunggulan teknologi domestik tetap terjaga.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor