Ekspansi Pangkalan Militer China di Laos Picu Kekhawatiran ASEAN

Pemerintah China dilaporkan tengah memperluas pengaruh pertahanannya di Asia Tenggara melalui pembangunan pangkalan militer China di Laos. Langkah strategis ini terdeteksi lewat pembangunan landasan pacu baru di kawasan Ban Keun, sebuah wilayah yang terletak sekitar 40 kilometer di sebelah utara ibu kota Vientiane.
Meskipun saat ini infrastruktur tersebut baru digunakan oleh jet militer berukuran kecil, pergerakan Beijing ini memicu kekhawatiran mendalam di kawasan. Negara-negara tetangga di Asia Tenggara kini mengamati dengan saksama potensi perluasan landasan pacu tersebut agar bisa menampung pesawat tempur berukuran besar. Lokasi Ban Keun yang strategis memberikan China akses pengawasan udara yang lebih luas ke semenanjung Indochina.
Langkah ini menandai babak baru dari ambisi geopolitik Beijing di halaman belakang Asia Tenggara.
Laos merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak memiliki wilayah laut, sehingga sangat bergantung pada konektivitas darat dan udara. Selama satu dekade terakhir, Vientiane telah menerima miliaran dolar AS dalam bentuk investasi infrastruktur dari Beijing di bawah program Sabuk dan Jalan. Ketergantungan ekonomi yang tinggi ini membuat Laos sulit menolak permintaan Beijing untuk membangun fasilitas yang diduga memiliki fungsi ganda, baik sipil maupun militer.
Bagi Indonesia dan anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara lainnya, kehadiran kekuatan militer asing di dekat perbatasan merupakan isu sensitif. Perkembangan ini berisiko mengganggu keseimbangan kekuatan regional yang selama ini diupayakan tetap netral dari rivalitas kekuatan besar dunia.
Pola ekspansi ini sangat mirip dengan apa yang terjadi di Kamboja baru-baru ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261026/original/095995400_1750653717-AP25172080086730.jpg)






