Visa Manfaatkan Data VisaNet untuk Ekspansi Kredit Berbasis Stablecoin

Visa kini mengintegrasikan data dari jaringan pembayaran globalnya, VisaNet, dengan platform pinjaman berbasis blockchain untuk menyediakan modal kerja bagi penerbit kartu stablecoin.
Langkah strategis ini dilakukan setelah volume penyelesaian transaksi menggunakan stablecoin di jaringan Visa melampaui tingkat tahunan sebesar USD 20 miliar (sekitar Rp314 triliun). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan hingga 15 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Perusahaan raksasa pembayaran ini ingin memfasilitasi pemberi pinjaman di ekosistem kripto agar dapat mengakses data transaksi yang lebih transparan. Data tersebut berfungsi sebagai dasar penilaian risiko bagi pihak ketiga saat memberikan kredit kepada penerbit kartu yang mendorong pertumbuhan volume transaksi aset digital.
Stablecoin merupakan jenis mata uang kripto yang nilainya dipatok pada aset stabil seperti dolar AS, sehingga meminimalisasi volatilitas harga yang ekstrem. Aset ini sering digunakan sebagai jembatan efisien antara sistem keuangan tradisional dan ekosistem aset digital.
Integrasi data ini memungkinkan penilaian kredit yang lebih akurat bagi perusahaan yang mengelola stablecoin. Selama ini, pemberi pinjaman sering kesulitan mengakses riwayat transaksi yang valid di jaringan blockchain untuk menentukan profil risiko peminjam secara tepat.
Dengan memanfaatkan keandalan VisaNet, pemberi pinjaman dapat melihat pola arus kas nyata dari para pengguna kartu. Transparansi ini diharapkan mampu menekan biaya modal bagi para pelaku industri keuangan berbasis blockchain.
Model kerja sama ini membuka peluang baru bagi likuiditas di pasar kripto. Akses modal kerja yang lebih mudah akan mendorong lebih banyak inovasi dalam layanan kartu pembayaran berbasis stablecoin secara global.
Penggunaan stablecoin sebagai instrumen pembayaran kini semakin dilirik karena kecepatannya dalam penyelesaian transaksi lintas negara. Dibandingkan dengan sistem kliring perbankan konvensional yang memakan waktu berhari-hari, stablecoin menawarkan efisiensi waktu yang jauh lebih unggul bagi pedagang maupun konsumen.
Visa tidak bertindak sebagai pemberi pinjaman langsung dalam skema ini. Mereka berperan sebagai penyedia infrastruktur data yang menghubungkan penyedia modal dengan ekosistem blockchain melalui standar pelaporan yang aman dan kredibel.
Keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada adopsi teknologi blockchain oleh institusi keuangan arus utama. Jika skema ini terbukti mampu menjaga risiko tetap rendah, tidak menutup kemungkinan model serupa akan diterapkan pada berbagai lini produk keuangan lainnya.
Pasar aset kripto terus bertransformasi menuju layanan yang lebih fungsional dan terintegrasi dengan kebutuhan dunia nyata. Inisiatif Visa menunjukkan pergeseran paradigma dari spekulasi aset menuju pemanfaatan teknologi buku besar terdistribusi untuk efisiensi sistem pembayaran global.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor









