XRP Ledger Membela Patch Darurat Usai Temuan Celah Bug pada Sistem Keamanan

Pengembang XRP Ledger memberikan pembelaan terkait penerapan patch keamanan darurat yang ditujukan untuk mengatasi kerentanan sistem jaringan. Langkah ini diambil guna mencegah potensi pembuatan token XRP secara ilegal yang melampaui batas pasokan tetap yang telah ditentukan.
Perbaikan yang dirilis pada 25 September tersebut muncul hanya tiga hari setelah adanya laporan bug bounty. Keputusan ini menandai kali pertama tim pengembang sengaja memotong proses amandemen standar yang telah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun demi melindungi integritas jaringan.
Para pengembang melalui akun resmi di X menyatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain selain bertindak cepat. Jika mengikuti prosedur pemungutan suara validator yang biasanya memakan waktu dua minggu, celah keamanan tersebut akan terbuka terlalu lama bagi pihak yang berniat jahat.
Langkah sigap ini segera memicu perdebatan mengenai tingkat desentralisasi yang sebenarnya pada XRPL. Sebagaimana diketahui, XRPL selama ini mempromosikan diri sebagai blockchain publik yang sepenuhnya terdesentralisasi, sebuah klaim yang sering digunakan dalam argumen hukum bahwa XRP bukan termasuk kategori sekuritas.
Kritik tajam datang dari pendiri Cyber Capital, Justin Bons, yang menyebut pemasaran XRP sebagai jaringan terdesentralisasi adalah sebuah penyesatan informasi. Ia menyoroti bahwa perilisan patch tersebut dilakukan secara tertutup dengan hanya membagikan berkas biner tanpa kode sumber, sehingga memaksa operator untuk segera melakukan pembaruan.
Namun, pihak XRP Ledger Foundation menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan kolektif antara yayasan, RippleX, pengembang inti, dan para validator. Mereka menilai tingkat keparahan bug tersebut sudah berada pada tahap yang sangat krusial bagi keberlangsungan aset digital pengguna.
Pihak yayasan menekankan bahwa tidak ada satu pun pihak yang memiliki otoritas tunggal untuk mengambil keputusan sepihak. Setiap operator node tetap memiliki kebebasan untuk memilih perangkat lunak yang dijalankan, dan perubahan protokol tetap harus melalui mekanisme pemungutan suara dengan dukungan validator di atas 80 persen.
Dukungan serupa juga datang dari XRP Kuwait, salah satu operator validator independen dalam ekosistem tersebut. Mereka menyatakan bahwa koordinasi antaroperator saat terjadi krisis keamanan bukanlah bukti dari kontrol terpusat, melainkan bentuk kerja sama profesional untuk menjaga stabilitas jaringan.
Laporan kerentanan menyebutkan bahwa bug tersebut merupakan masalah integer overflow atau kelebihan kapasitas angka yang telah ada pada mesin pembayaran XRP Ledger sejak tahun 2015. Secara teknis, saldo XRP disimpan dalam angka 64-bit yang memiliki batas maksimum tetap.
Ketika perhitungan melampaui batas tersebut, sistem secara otomatis mereset angka menjadi jauh lebih kecil alih-alih mengalami kegagalan proses. Seorang penyerang dapat mengeksploitasi celah ini dengan menyusun ratusan penawaran harga khusus dan memicu pembayaran yang membuat saldo XRP tercipta secara mendadak.
Beruntung, eksploitasi tersebut membutuhkan konstruksi penawaran yang sangat spesifik dan mustahil terjadi melalui aktivitas perdagangan normal. Hingga saat ini, pengembang menyatakan tidak menemukan bukti adanya pihak yang berhasil memanfaatkan celah ini di jaringan publik mana pun.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor














