Harga Emas Tertekan, Proyeksi Pasar Uji Level Support US$ 4.066

Harga emas kini menghadapi tekanan penurunan yang signifikan di pasar global.
Kondisi ini dipicu oleh sinyal teknikal yang kurang menguntungkan serta ketidakpastian kebijakan ekonomi di Amerika Serikat yang menghambat potensi pemulihan harga. Analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pergerakan harga saat ini masih menunjukkan risiko pelemahan lanjutan bagi komoditas logam mulia tersebut.
Secara teknikal, grafik harian emas membentuk pola bearish pennant yang biasanya mengindikasikan kelanjutan tren turun setelah periode konsolidasi. Pola ini memperlihatkan bahwa tekanan jual dari pelaku pasar masih cukup dominan.
Pemulihan harga diperkirakan akan sangat terbatas jika tidak ada perubahan sentimen pasar yang drastis. Investor kini menanti apakah harga mampu menembus zona resistance di kisaran US$ 4.191 hingga US$ 4.218 per ons troi.
Level tersebut menjadi batas krusial yang harus dilewati untuk mengurangi beban teknikal yang menekan pasar saat ini.
Geraldo mengungkapkan, kegagalan menembus batas atas tersebut akan membuka jalan bagi harga untuk menguji zona support yang lebih dalam. "Selama harga belum mampu menembus dan ditutup di atas area US$ 4.218, peluang penurunan menuju rentang US$ 4.097 hingga US$ 4.066 masih sangat terbuka," ujarnya pada Selasa (20/10/2026).
Area antara US$ 4.097 hingga US$ 4.066 (sekitar Rp64 juta hingga Rp63,5 juta per ons troi) kini menjadi perhatian utama para pelaku pasar sebagai titik penentu arah pergerakan selanjutnya.
Selain faktor teknikal, penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury menjadi beban berat bagi emas. Perlu dipahami bahwa emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga daya tariknya sering kali menurun saat imbal hasil obligasi meningkat.
Situasi ini menciptakan biaya peluang atau opportunity cost yang lebih tinggi bagi investor yang memilih untuk menyimpan emas dibandingkan instrumen berpendapatan tetap.
Kebijakan moneter dari bank sentral AS, Federal Reserve, tetap menjadi faktor determinan dalam membentuk sentimen global. Ekspektasi pasar mengenai durasi suku bunga tinggi dapat menahan ruang gerak penguatan harga emas lebih jauh.
Namun, dinamika pasar tidak sepenuhnya bergantung pada data ekonomi dan pola grafik saja. Permintaan terhadap aset safe haven atau aset lindung nilai tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi secara akurat.
Ketegangan geopolitik dunia yang sewaktu-waktu memanas berpotensi memicu lonjakan permintaan emas kembali. Hal ini dapat menjadi penahan alami terhadap tekanan jual yang tengah mendominasi pasar saat ini.
Pelaku pasar harus mencermati perpaduan antara sinyal teknikal yang bearish dengan perkembangan geopolitik global. Kombinasi faktor tersebut dapat memicu perubahan tren harga yang mendadak di masa mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor












