Benarkah Konsumsi Makanan Tertentu Dapat Memicu Risiko Katarak Lebih Cepat?

Katarak sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan yang tidak terelakkan bagi setiap manusia. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa pola makan memiliki pengaruh signifikan dalam mempercepat proses kekeruhan lensa mata tersebut.
Kondisi medis katarak ditandai dengan perubahan protein dalam lensa mata yang membuatnya menjadi keruh atau buram. Meskipun faktor usia menjadi penyebab utama, pilihan gaya hidup, terutama asupan nutrisi harian, dapat memperburuk risiko ini.
Makanan tinggi gula menjadi perhatian serius karena kaitannya dengan diabetes. Ketika kadar glukosa dalam darah melonjak, tubuh mengalami kesulitan dalam memproduksi atau merespons insulin secara efektif.
Penumpukan glukosa yang berlebihan dalam sistem tubuh berpotensi merusak saraf dan pembuluh darah, termasuk pada area mata. Hal ini memicu perkembangan katarak yang lebih agresif karena akumulasi protein abnormal pada lensa.
Kolesterol jahat atau LDL juga merupakan faktor risiko yang kerap terabaikan oleh masyarakat. Retina mata mengandung jaringan saraf yang sangat sensitif terhadap sirkulasi darah di sekitarnya.
Tingginya kadar kolesterol dalam darah dapat mengganggu integritas pembuluh darah di area retina. Mengacu pada jurnal ilmiah Nutrients, akumulasi kolesterol dapat merusak jaringan lensa mata yang sangat vital bagi penglihatan.
Makanan olahan seperti sosis, daging kaleng, dan produk siap saji sering kali mengandung natrium tinggi yang mencapai 75 persen dari batas konsumsi harian. Kandungan garam yang berlebih ini merupakan pemicu utama hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Sebuah studi meta-analisis yang melibatkan 14 penelitian berbeda menunjukkan korelasi kuat antara pasien hipertensi dengan peningkatan risiko katarak. Mengurangi konsumsi makanan olahan menjadi langkah preventif yang sangat disarankan oleh praktisi medis.
Gorengan atau makanan yang dimasak dengan suhu tinggi dalam lemak jenuh juga berkontribusi terhadap peradangan sistemik. Studi pada tahun 2015 mengungkap bahwa individu dengan prevalensi katarak tinggi umumnya memiliki riwayat konsumsi lemak jenuh yang di atas rata-rata.
Di sisi lain, pola makan yang kaya akan antioksidan dapat membantu memperlambat proses degradasi lensa mata. Asupan nutrisi seperti lutein, zeaxanthin, vitamin C, vitamin E, serta asam lemak omega-3 terbukti efektif menjaga kesehatan fungsi mata.
American Optometric Association merekomendasikan perlindungan mata melalui kombinasi gaya hidup sehat dan asupan nutrisi yang tepat. Selain mengatur pola makan, penggunaan kacamata pelindung saat terpapar sinar matahari terik juga membantu meminimalkan kerusakan mata.
Pemeriksaan rutin ke dokter spesialis mata tetap menjadi langkah awal yang paling akurat untuk memantau kesehatan lensa. Konsultasi medis memungkinkan setiap individu mendapatkan rekomendasi pencegahan yang sesuai dengan kondisi fisik masing-masing.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)








