Waspada Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan, dari ISPA hingga Kornea

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan bencana untuk mewaspadai dampak abu vulkanik bagi kesehatan akibat aktivitas vulkanik sejumlah gunung api aktif di Indonesia. Paparan material halus ini membawa risiko penyakit pernapasan hingga iritasi fisik yang membutuhkan penanganan medis segera.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik memiliki karakteristik fisik dan kimia yang sangat berbeda dari debu jalanan biasa.
Abu tersebut terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang keras serta tidak larut dalam air. Kandungan silika kristal di dalamnya memiliki tepian yang tajam dan bersifat asam. Karakteristik ini membuat abu sangat berbahaya bagi organ luar dan dalam manusia saat terjadi kontak fisik langsung.
Masalah pernapasan menjadi ancaman paling umum yang langsung dirasakan oleh warga pascaerupsi gunung api. Partikel mikro yang berdiameter kurang dari sepuluh mikrometer dapat dengan mudah menembus masker biasa hingga masuk jauh ke dalam paru-paru.
Kondisi ini memicu timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA yang ditandai dengan batuk, sesak napas, dan tenggorokan gatal. Bagi penderita penyakit pernapasan kronis seperti asma atau bronkitis, paparan ini dapat memperburuk kondisi klinis mereka secara drastis. Pemeriksaan medis intensif sering kali diperlukan bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
"Masyarakat di wilayah terdampak harus meminimalkan aktivitas luar ruang dan selalu menggunakan masker berstandar tinggi seperti N95," kata spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan dalam keterangan tertulisnya.
Selain sistem pernapasan, organ penglihatan juga menjadi bagian tubuh yang paling rentan mengalami kerusakan akibat paparan debu erupsi ini. Sifat abrasif dari material kaca vulkanik dapat menyebabkan goresan pada kornea mata apabila penderita mengucek mata mereka yang kemasukan debu.
Gejala awal biasanya berupa rasa mengganjal, mata merah, perih, hingga keluarnya cairan air mata secara berlebihan. Jika tidak segera dibilas dengan air bersih yang mengalir, iritasi ringan ini berpotensi berkembang menjadi infeksi konjungtivitis atau bahkan luka permanen pada selaput mata.
Dampak langsung berikutnya menyasar kesehatan kulit yang sering kali luput dari perhatian selama masa darurat bencana. Abu yang bersifat asam dan mengandung belerang tinggi dapat memicu dermatitis kontak dengan gejala kulit kemerahan, gatal, dan kering. Gesekan antara pakaian yang terpapar abu dengan kulit yang berkeringat akan memperparah peradangan tersebut.
Masalah kesehatan tidak berhenti pada kontak fisik luar saja, melainkan juga mengancam melalui jalur konsumsi air dan makanan sehari-hari. Endapan material abu vulkanik yang jatuh di bak penampungan air terbuka atau lahan pertanian dapat meracuni sumber air bersih warga setempat. Mengonsumsi air yang tercemar logam berat dari abu vulkanik berisiko menimbulkan gangguan pencernaan akut hingga keracunan jangka panjang.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus mendistribusikan logistik pelindung seperti masker medis dan tetes mata ke posko pengungsian. Langkah cepat ini diambil guna menekan angka kesakitan masyarakat di wilayah terdampak erupsi.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












