Membedakan Pola Asuh Responsif dan Memanjakan Anak agar Tidak Salah Kaprah

Dilema mengenai penerapan aturan dalam pola asuh sering kali membayangi benak para orang tua modern saat ini.
Banyak orang tua khawatir bahwa pemberian dukungan emosional secara berlebih atau sikap yang terlalu lunak justru akan membentuk karakter anak menjadi manja. Kekhawatiran ini sering muncul karena kebutuhan perkembangan inti anak kerap disalahartikan sebagai tindakan memanjakan yang berlebihan.
Dr. Sarah Cain Spannagel, seorang psikolog klinis di Case Western Reserve University, Amerika Serikat, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Menurutnya, anak menjadi manja bukan karena disayang, melainkan akibat ketiadaan batasan yang jelas serta minimnya penegakan aturan yang konsisten dari orang tua.
Spannagel menegaskan bahwa kebiasaan orang tua yang selalu menyelamatkan anak dari setiap ketidaknyamanan kecil adalah akar dari permasalahan perilaku tersebut. Di luar faktor tersebut, terdapat berbagai kebiasaan pengasuhan yang justru sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang yang sehat.
Merespons tangisan bayi dengan segera tidak akan merusak karakter mereka, melainkan menguatkan rasa aman serta kelekatan emosional antara orang tua dan anak. Saat balita sedang mengalami tantrum, tindakan menenangkan mereka merupakan bentuk regulasi emosi bersama karena anak usia dini belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosi intens secara mandiri.
Memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas harian saat anak merasa lelah juga bukan tindakan yang membuat mereka menjadi malas atau tidak mandiri. Caitlin Slavens, seorang psikolog dan pendiri Couples to Cradles Counseling, menjelaskan bahwa kemampuan seorang anak dalam melakukan tugas berbeda dengan kapasitas mereka dalam mengelola tugas tersebut saat kelelahan.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih pakaian sendiri atau berdiskusi mengenai aturan di rumah sangat berguna untuk melatih fungsi eksekutif serta rasa tanggung jawab. Selain itu, orang tua yang berani meminta maaf saat melakukan kesalahan memberikan pelajaran berharga tentang komunikasi yang sehat bagi anak.
Kedekatan fisik saat anak bersiap untuk tidur juga tidak akan merampas kemampuan mereka untuk tidur sendiri di masa depan. Proses tidur bagi anak kecil merupakan sebuah perpisahan sementara, sehingga kedekatan fisik berfungsi untuk meredakan kecemasan alamiah yang sering muncul menjelang malam.
Keputusan untuk mengizinkan anak berhenti dari sebuah kegiatan yang tidak mereka sukai juga bukan merupakan cermin kelemahan karakter. Jika suatu aktivitas memicu kesusahan yang berarti, mengganggu jadwal sekolah, atau sama sekali tidak sesuai dengan minat anak, orang tua dibolehkan memberi ruang bagi mereka untuk mundur dari kegiatan tersebut.
Pola asuh yang tepat memerlukan keseimbangan antara empati dan ketegasan dalam menetapkan batasan yang masuk akal. Memahami kebutuhan anak melalui pendekatan yang responsif akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta memiliki kecerdasan emosional yang baik di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334613/original/006699400_1756722926-000_72YW3RF.jpg)