Mengulik Red String Theory: Mitos Benang Merah Takdir dalam Hubungan

Red String Theory atau teori benang merah belakangan ini kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Teori ini memberikan narasi romantis bahwa setiap individu terhubung oleh benang tak kasatmata dengan orang yang sudah digariskan menjadi belahan jiwanya. Konsep tersebut sering kali memberikan penghiburan bagi mereka yang sedang mencari makna di balik sebuah pertemuan yang tidak direncanakan.
Secara historis, akar pemikiran ini berasal dari mitologi Tiongkok kuno tentang sosok Yue Lao. Dia dikenal sebagai dewa perjodohan yang memiliki tugas mengikatkan benang merah pada pergelangan kaki pasangan yang ditakdirkan bersama. Terlepas dari seberapa jauh jarak atau waktu yang memisahkan, benang tersebut diyakini tidak akan pernah putus hingga keduanya benar-benar bertemu.
Jepang juga memiliki kepercayaan serupa yang dikenal dengan istilah akai ito. Berbeda dengan versi Tiongkok, mitos di Jepang meyakini bahwa ikatan takdir tersebut terhubung melalui jari kelingking.








