Vivi Lin: Sosok di Balik Museum Menstruasi Pertama di Asia

Stigma seputar menstruasi ternyata bukan sekadar isu lokal, melainkan fenomena global yang membungkam banyak perempuan. Di Taiwan, Vivi Lin muncul sebagai pendobrak tabu tersebut melalui berbagai langkah edukasi dan inovasi sosial yang berani.
Pengalaman pribadi menjadi pemantik semangat Vivi. Saat beranjak remaja, ia justru menerima pesan untuk menyembunyikan masa menstruasinya, alih-alih mendapatkan pemahaman kesehatan reproduksi yang layak.
Rasa sakit akibat dibungkam itulah yang ia transformasikan menjadi energi positif. Vivi mendirikan organisasi nirlaba bernama With Red pada tahun 2019 untuk mengawal kesetaraan menstruasi secara sistematis.
Organisasi ini telah menjangkau lebih dari 90 institusi pendidikan dan menginisiasi mata kuliah khusus menstruasi di National Taiwan University. Selain edukasi, mereka juga menaruh perhatian besar pada masalah kemiskinan menstruasi atau period poverty, yakni kondisi di mana seseorang kesulitan mengakses produk sanitasi karena masalah ekonomi.
Hingga saat ini, With Red telah mendistribusikan lebih dari 350.000 produk sanitasi gratis. Bantuan ini tidak hanya diberikan di fasilitas publik seperti MRT Taipei, tetapi juga dikirimkan sebagai bantuan darurat hingga ke negara yang sedang mengalami konflik seperti Ukraina.
Pada tahun 2023, Vivi meresmikan Red House Period Museum di Taipei sebagai museum menstruasi pertama di Asia. Bangunan tersebut berfungsi ganda, baik sebagai sarana edukasi visual maupun simbol perlawanan terhadap stigma yang masih mengakar di masyarakat.
Pengunjung museum disuguhi instalasi anatomi dan pameran kisah nyata yang menggugah emosi. Salah satu pameran permanen yang menarik perhatian adalah The Women, yang mendokumentasikan sejarah lisan pengelolaan menstruasi dari generasi nenek di Taiwan.
Proyek ini lahir secara tidak sengaja ketika seorang lansia menegur Vivi karena membahas menstruasi di ruang publik. Percakapan tersebut justru berubah menjadi ruang berbagi pengalaman masa lalu yang jarang terdokumentasi sebelumnya.
Berkat dedikasinya, Vivi Lin berhasil masuk ke dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia tahun 2024 untuk kategori dampak sosial. Meski meraih banyak pengakuan, ia memegang filosofi yang cukup unik terkait masa depan organisasinya.
Vivi menyatakan keinginannya agar suatu saat nanti dunia tidak lagi membutuhkan organisasi seperti With Red. Ia bermimpi agar kesetaraan menstruasi telah sepenuhnya terinternalisasi, sehingga stigma ini hanya akan menjadi catatan sejarah.
Baginya, menstruasi seharusnya tidak membatasi aspirasi atau kesejahteraan siapa pun. Langkah kecil yang diambil bersama akan menjadi kunci perubahan besar bagi masa depan perempuan di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor








