Azerbaijan Imbau Warga Tunda Perjalanan ke Prancis Akibat Kerusuhan

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan secara resmi mengeluarkan imbauan bagi seluruh warga negaranya untuk menunda rencana perjalanan ke Prancis. Kebijakan ini diambil sebagai respons langsung atas situasi keamanan yang memburuk akibat aksi kekerasan dan pembangkangan sipil di berbagai wilayah negara tersebut.
Pihak berwenang di Baku menilai risiko keamanan bagi warga sipil di Prancis saat ini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan pernyataan resmi kementerian, warga yang saat ini sudah berada di Prancis diminta untuk tetap waspada dan menghindari lokasi demonstrasi massa. Mereka juga didorong untuk segera mendaftarkan diri pada Kedutaan Besar Republik Azerbaijan di Paris melalui saluran komunikasi resmi yang tersedia. Langkah ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi perlindungan jika situasi darurat pecah di tengah gejolak sosial yang sedang berlangsung.
Prancis belakangan ini memang menghadapi gelombang protes besar yang sering kali berujung pada bentrokan terbuka antara massa dan aparat kepolisian. Eskalasi konflik ini dipicu oleh berbagai isu domestik, termasuk ketegangan sosial dan ketidakpuasan mendalam terhadap kebijakan pemerintah pusat.
Hubungan diplomatik antara Baku dan Paris juga sedang berada dalam titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.
Ketegangan ini berakar dari dukungan kuat Prancis terhadap Armenia dalam sengketa wilayah Nagorno Karabakh yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Azerbaijan menganggap posisi Paris tidak netral dan sering kali mencampuri urusan kedaulatan negara di kawasan Kaukasus Selatan melalui pernyataan politik yang provokatif. Kondisi tersebut membuat imbauan perjalanan ini memiliki dimensi politik yang lebih luas daripada sekadar peringatan keamanan bagi turis biasa.
Sebelumnya, pemerintah Prancis juga sempat menuduh Azerbaijan mencoba melakukan campur tangan dalam urusan dalam negerinya, terutama terkait kerusuhan di wilayah Kaledonia Baru. Kaledonia Baru merupakan wilayah seberang laut Prancis di Samudra Pasifik yang baru-baru ini dilanda kerusuhan etnis dan tuntutan kemerdekaan dari penduduk asli suku Kanak.
Baku dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan balik mengkritik kebijakan kolonialisme modern yang dinilai masih diterapkan oleh pemerintah Prancis.
Perselisihan ini mengakibatkan penarikan duta besar dari kedua belah pihak untuk sesi konsultasi mendalam pada awal tahun ini. Penurunan level komunikasi diplomatik menunjukkan betapa seriusnya perpecahan antara kedua negara yang sebelumnya memiliki kerja sama ekonomi cukup erat di masa lalu. Sektor energi dan infrastruktur biasanya menjadi pilar utama dalam hubungan bilateral mereka, namun kini terancam oleh sentimen politik yang terus memanas.
Bagi wisatawan asal Azerbaijan, Prancis selama ini menjadi salah satu destinasi wisata utama di Eropa Barat, khususnya untuk kunjungan ke Paris dan Lyon. Namun, dengan adanya peringatan resmi ini, sejumlah agen perjalanan di Baku mulai melaporkan pembatalan massal untuk paket wisata musim panas.
Dampak ekonomi dari penurunan jumlah pelancong ini mungkin relatif kecil bagi Prancis, tetapi menjadi simbol kuat dari keretakan hubungan bilateral.
Pemerintah Azerbaijan menekankan bahwa keselamatan setiap warga negara adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar dalam kondisi apa pun. Mereka terus memantau perkembangan situasi di lapangan lewat laporan intelijen dan koordinasi intensif dengan perwakilan diplomatik di negara-negara tetangga Prancis. Jika situasi keamanan mulai stabil dan kondusif, pihak kementerian berjanji akan segera memperbarui status imbauan perjalanan tersebut bagi publik luas.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









