{

"title": "Bank Indonesia Perluas Konektivitas QRIS Antarnegara ke Timor Leste dan Hong Kong", "content": "<p>Bank Indonesia (BI) merencanakan perluasan konektivitas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) antarnegara dengan menargetkan peluncuran di Timor Leste dan Hong Kong pada tahun depan. Inisiatif ini merupakan bagian strategis untuk memperkuat konektivitas ekonomi dan keuangan digital lintas batas, sekaligus menopang mobilitas wisatawan.</p><p>Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa proses sandboxing, khususnya untuk Timor Leste, telah berlangsung pada tahun ini.
Hal ini menjadi langkah awal sebelum implementasi penuh sistem pembayaran tersebut.</p><p>“Pertama perluasan QRIS Antarnegara. Selain enam negara yang sudah saya sampaikan, ada dua lagi yang sudah selesai tanda tangan kemarin, yaitu dengan Timor-Leste dan segera dengan Hong Kong Monetary Authority,” ungkap Aida di Jakarta, dalam acara FEKDI x IFSE 2026.</p><p>Selain ekspansi QRIS, Bank Indonesia juga aktif mengembangkan sistem pembayaran digital inovatif lainnya. Salah satunya adalah pembayaran berbasis wajah atau <em>face payment</em>, yang kini melibatkan empat negara ASEAN dan India dalam tahap pengembangan.</p><p>Bank sentral juga terus memperkuat inisiatif transaksi menggunakan mata uang lokal (<em>local currency transaction</em>/LCT).
Program ini telah berjalan dengan tujuh negara dan akan terus dioptimalkan jangkauannya.</p><p>Pengembangan <em>face payment</em> dilakukan melalui proses Nexus di tingkat regional, memanfaatkan infrastruktur BI-Fast. Sistem ini memungkinkan transaksi cepat selama 24 jam dengan biaya yang efisien, sekitar Rp 2.500 per transaksi.</p><p>Aida S. Budiman menegaskan, “Bank Indonesia akan terus mendorong EKD (Ekonomi dan Keuangan Digital) antarnegara ini dengan tiga cara.
Yang pertama tentunya perluasan QRIS antar negara.”</p><p>Inisiatif LCT bertujuan untuk mengintegrasikan ekosistem ekonomi digital secara lebih luas. “Sekarang ini sudah ada tujuh, dan nanti akan terus kita lakukan dengan Local Currency Transaction, sehingga ekosistem kita tadi akan terhubung, tidak saja untuk retail, UMKM tapi juga untuk perdagangan dan investasi,” tambahnya.</p><p>Data Bank Indonesia mencatat bahwa transaksi LCT Indonesia mencapai ekuivalen 49,4 miliar dollar AS selama periode Januari hingga Agustus 2026. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan total transaksi LCT sepanjang tahun 2025 yang hanya sebesar 25,7 miliar dollar AS.</p><p>Di ranah domestik, adopsi QRIS juga menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga triwulan II 2026, pengguna QRIS di Provinsi Kalimantan Timur telah mencapai 948.300 orang, meningkat dari 906.600 pengguna pada triwulan sebelumnya.</p><p>Jumlah merchant QRIS di wilayah tersebut juga tumbuh, mencapai 910.700 merchant pada periode yang sama.
Ini mencerminkan respons positif dari masyarakat dan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran digital.</p><p>Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, menyatakan, "Perkembangan tersebut menunjukkan penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran digital terus meluas." Ia juga menambahkan bahwa transaksi melalui sistem pembayaran bernilai besar dan ritel di Kaltim mengalami pertumbuhan.</p><p>Di tingkat nasional, Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa jumlah pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 67 juta orang. Angka ini setara dengan sekitar seperempat dari total populasi penduduk.</p><p>Peningkatan pesat penggunaan QRIS ini turut berdampak pada perlambatan pertumbuhan uang kartal. Uang tunai kini lebih banyak beredar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang akses internetnya masih terbatas.</p><p>Destry menjelaskan, "Kalau kita lihat, memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat.
Kenapa? Karena Indonesia ini kan sangat luas. Dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar gitu kan.
Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang-uang cash."</p><p>Meski demikian, Destry menegaskan bahwa uang kartal tetap merupakan alat pembayaran yang sah. Pelaku usaha diharapkan untuk tetap menerima pembayaran tunai sebagai opsi. "Kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash, karena tetap bahwa payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash," ujarnya.</p>", "excerpt": "Bank Indonesia akan memperluas konektivitas QRIS antarnegara ke Timor Leste dan Hong Kong pada tahun depan, sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi digital dan keuangan lintas negara. Pembayaran digital lainnya juga terus dikembangkan.", "tags": ["QRIS", "Bank Indonesia", "Pembayaran Digital", "Ekonomi Digital", "Timor Leste", "Hong Kong"], "category": "Ekonomi", "title_variants": [ "BI Perluas QRIS ke Timor Leste dan Hong Kong Tahun Depan", "Bank Indonesia Jangkau Timor Leste dan Hong Kong dalam Ekspansi QRIS Antarnegara untuk Dorong Ekonomi Digital" ] }
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)








