Audisi Umum PB Djarum di Kudus Catat Rekor Peserta, Ungkap Kualitas Atlet Berbeda Tiap Daerah

Audisi Umum PB Djarum 2026 terus mencari bibit-bibit unggul bulu tangkis masa depan Indonesia, dengan tahapan di Kudus mencatatkan rekor partisipasi. Sebanyak 1.601 peserta membanjiri GOR Djarum Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap olahraga ini.
Angka tersebut melampaui jumlah peserta pada dua lokasi pelaksanaan sebelumnya, yaitu Pekanbaru pada Juli dan Makassar pada Agustus. Ini menandai puncak minat calon atlet muda untuk bergabung dengan salah satu klub bulu tangkis paling prestisius di tanah air.
Ketua Tim Pencari Bakat Audisi Umum PB Djarum 2026, Sigit Budiarto, menyoroti adanya karakteristik pembinaan atlet muda yang berbeda di setiap kota, baik untuk sektor putra maupun putri.
Kudus, yang dikenal sebagai salah satu sentra bulu tangkis Indonesia dan lokasi GOR Djarum, diyakini akan menyajikan persaingan yang lebih seimbang. Lokasinya di Pulau Jawa juga mempermudah akses bagi peserta dari berbagai provinsi untuk berpartisipasi dalam ajang seleksi ini.
Sebelumnya, tim pencari bakat telah menemukan pola kekuatan atlet yang berbeda di dua titik seleksi perdana. Di Pekanbaru, kualitas teknik peserta putra lebih menonjol dibandingkan peserta putri.
“Di Pekanbaru, itu secara kualitas teknik, putra, itu lebih bagus dari yang putri. Sehingga kita melihat bahwa potensi di putra di sana lebih besar,” ungkap Sigit dalam konferensi pers Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus.
Situasi sebaliknya justru terjadi saat seleksi berpindah ke Makassar. Tim pemantau melihat kelompok peserta putri lebih mendominasi, baik dari segi penguasaan teknik dasar maupun kualitas permainan secara keseluruhan di lapangan.
“Nah kemudian bergeser ke Makassar. Dari peserta yang ada, dominasi yang putri secara teknik dan kualitasnya lebih banyak yang putri dibandingkan yang putra,” kata legenda ganda putra Indonesia itu.
“Jadi memang mungkin perkembangan di sana untuk saat sekarang ini pembinaannya lebih banyak yang putri di Makassar,” imbuhnya.
Perbedaan temuan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi serta persebaran fokus pembinaan olahraga bulu tangkis di berbagai daerah di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa program pembinaan di tingkat daerah memiliki spesialisasi dan kekuatan tersendiri.
Sigit berharap kualitas persaingan pada tahapan di Kudus akan berjalan lebih merata dan kompetitif. Hal ini karena Kudus menjadi titik pertemuan atlet dari berbagai penjuru daerah.
“Kemudian, kalau kita bandingkan dengan yang di Kudus, tentunya di Pulau Jawa, nah sekarang ini, harusnya akan lebih baik di sini karena ini lebih merata dari semua provinsi yang ada di Indonesia bisa bergabung di sini untuk mengikuti audisi,” jelas Sigit.
Ia juga menambahkan bahwa intensitas latihan yang tinggi, konsistensi dalam pembinaan, serta kuantitas peserta di Pulau Jawa turut memengaruhi kualitas para atlet yang bertanding. Lingkungan yang kompetitif secara alami mendorong peningkatan performa.
“Dibandingkan di dua kota sebelumnya. Maka secara peserta, secara latihan, secara konsistensi, dan pelatihan, mungkin lebih baik yang ada di Pulau Jawa,” tuturnya.
Proses penilaian peserta dalam Audisi Umum PB Djarum tidak semata-mata bertumpu pada penguasaan teknik dasar di lapangan. Faktor fisik dan mental turut menjadi bahan pertimbangan utama bagi tim pelatih dalam menjaring talenta.
Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Fung Permadi, menjelaskan bahwa pemantauan mencakup postur tubuh, proyeksi perkembangan fisik lima hingga enam tahun ke depan, cara bertanding, serta daya juang setiap peserta. Ini semua adalah elemen krusial untuk karir atlet profesional jangka panjang.
“Postur walaupun agak sulit untuk memprediksi, tapi kita punya beberapa patokan yang kita pakai,” beber Fung mengenai salah satu kriteria fisik yang dinilai.
Melalui Audisi Umum ini, PB Djarum tidak hanya mencari juara sesaat, melainkan atlet dengan potensi komprehensif yang siap dibina untuk jenjang kompetisi nasional dan internasional. Program ini menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga dominasi Indonesia di kancah bulu tangkis dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












