
Manchester United menelan kekalahan memalukan dengan skor 1-4 saat bertandang ke markas Como pada laga ketiga fase liga Liga Champions 2026/2027. Kekalahan telak di Stadion Giuseppe Sinigaglia ini menempatkan pelatih Michael Carrick dalam tekanan besar setelah performa tim yang merosot tajam.
Hasil ini menjadi catatan kelam bagi Setan Merah karena mereka ditaklukkan oleh klub Italia yang dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Hartono.
Como yang kini dikelola secara modern oleh Hartono Bersaudara melalui Djarum Group berhasil menunjukkan dominasi permainan sejak menit awal pertandingan dimulai. Dukungan finansial dan manajemen yang stabil dari pemilik asal Indonesia tersebut telah mengubah klub ini menjadi kekuatan baru di sepak bola Eropa. Pertandingan pada Rabu malam itu membuktikan bahwa kemapanan tim asuhan Cesc Fabregas mampu melampaui sejarah panjang tim tamu.
Gelandang muda Nico Paz membuka keunggulan tuan rumah saat pertandingan baru berjalan dua menit melalui serangan cepat yang mengejutkan pertahanan lawan. Gol tersebut memaksa Manchester United mencatatkan rekor buruk sebagai klub Inggris pertama yang kebobolan di dua menit awal pada dua laga beruntun di Liga Champions.
Sebelum ini, mereka juga mengalami nasib serupa saat menghadapi Atletico Madrid di kompetisi yang sama.
Michael Carrick tidak mencoba mencari alasan atas kekalahan memalukan timnya dan memilih untuk menghadapi kritik secara terbuka. Setelah peluit panjang berbunyi, mantan gelandang legendaris tersebut menghampiri tribun pendukung Manchester United untuk meminta maaf secara langsung kepada para suporter. Sikap ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral atas hasil yang sangat jauh dari standar klub sebesar United.
"Semua orang harus bertanggung jawab atas hasil ini, namun tanggung jawab penuh berada di tangan saya," ujar Carrick saat diwawancarai oleh TNT Sports selepas pertandingan. Ia juga menyatakan bahwa dirinya sangat peduli terhadap klub tersebut sehingga melihat penampilan seburuk itu terasa sangat menyakitkan.
Dominasi Como berlanjut lewat gol Anastasios Douvikas yang memanfaatkan umpan matang dari Nico Paz untuk menaklukkan kiper Senne Lammens. Douvikas menunjukkan ketenangan luar biasa dengan mencungkil bola melewati jangkauan kiper lawan untuk menggandakan keunggulan. Keadaan semakin memburuk bagi tim tamu saat Nico Paz kembali mencetak gol keduanya sebelum babak pertama berakhir.
Jacobo Ramon kemudian memperlebar jarak menjadi 4-0 yang membuat moral pemain Manchester United semakin terpuruk di lapangan. Joshua Zirkzee baru mampu memperkecil ketertinggalan pada masa tambahan waktu, namun gol tersebut hanya menjadi penghibur kecil di tengah kekalahan besar.
Statistik mencatat kekalahan ini merupakan kali keenam dalam sejarah keikutsertaan Manchester United di Liga Champions di mana mereka kalah dengan selisih minimal tiga gol. Margin kekalahan sebesar ini terakhir kali mereka rasakan saat berhadapan dengan Barcelona pada babak perempat final tahun 2019. Ketidakkonsistenan lini belakang menjadi masalah utama yang harus segera diselesaikan oleh jajaran kepelatihan di Carrington.
Kekalahan ini juga memperpanjang tren negatif United yang belum mampu meraih kemenangan meyakinkan dalam beberapa laga terakhir di kancah domestik maupun Eropa. Manajemen klub kini dihadapkan pada pilihan sulit terkait masa depan Carrick di kursi kepelatihan.
Sementara itu, pendukung Como merayakan kemenangan bersejarah ini sebagai bukti bahwa visi pemilik asal Indonesia telah membuahkan hasil nyata di level tertinggi.
Komitmen Hartono Bersaudara dalam membangun infrastruktur dan skuad Como mulai membuahkan hasil yang diakui secara internasional. Mereka berhasil membawa klub dari kasta bawah Liga Italia hingga mampu bersaing dan mengalahkan raksasa sekelas Manchester United di panggung Benua Biru.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor