SEA Games ke-33 2025 di Thailand: Mengulas Sejarah Panjang dan Semangat Persatuan Asia Tenggara

Thailand akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Southeast Asian Games (SEA Games) ke-33, sebuah ajang multi-olahraga terbesar di Asia Tenggara, yang dijadwalkan berlangsung pada 9 hingga 20 Desember 2025.
Kompetisi dwitahunan ini mempertemukan atlet-atlet terbaik dari negara-negara anggota ASEAN, mengukuhkan posisinya sebagai barometer perkembangan olahraga regional. Di bawah naungan Southeast Asian Games Federation (SEAGF), ajang ini turut dalam pengawasan ketat Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Dewan Olimpiade Asia (OCA).
Gagasan fundamental di balik pembentukan ajang ini pertama kali diutarakan oleh Laung Sukhumnaipradit, yang menjabat sebagai Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand, pada tahun 1957. Ia melihat esensi pentingnya memperkuat ikatan persaudaraan antarnegara di Asia Tenggara, dengan olahraga sebagai medium pemersatu.
Selain mempererat hubungan regional, Laung Sukhumnaipradit juga berambisi agar ajang olahraga di Asia Tenggara memiliki standar dan konsep setara dengan Asian Games atau Olimpiade. Ini bertujuan mendorong peningkatan kualitas olahraga di negara-negara ASEAN secara sistematis dan berkelanjutan.
Gagasan visioner tersebut kemudian dibahas lebih lanjut oleh Dave Kitcher, yang saat itu menjabat sebagai pelatih Asosiasi Atletik Thailand, bersama perwakilan Kamboja dan Vietnam pada Februari 1958. Respon positif dari kedua negara mengindikasikan dukungan awal yang kuat terhadap rencana ini.
Pertemuan resmi Komite Olimpiade Thailand lantas digelar pada 22 Februari 1958, dihadiri oleh delegasi dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Malaysia. Dalam konsensus bersama, mereka menyepakati pembentukan South East Peninsular Games (SEAP Games) dan penyelenggaraan pertamanya di Bangkok pada Desember 1958.
Para delegasi juga menyetujui jadwal penyelenggaraan dua tahunan serta pembentukan Komite Federasi SEAP Games, menetapkan Thailand, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Laos sebagai negara penggagas. Singapura kemudian bergabung pada tahun yang sama, mengisi tempat Kamboja yang absen pada edisi perdana.
SEAP Games pertama kali secara resmi dihelat di Bangkok, Thailand, pada 12 hingga 17 Desember 1959.
Transformasi penting terjadi pada SEAP Games ke-8 di tahun 1975, ketika Komite Federasi mengundang Indonesia, Brunei Darussalam, dan Filipina untuk bergabung. Ketiga negara tersebut secara resmi menjadi anggota pada tahun 1977, memperluas cakupan regional ajang ini secara signifikan.
Bersamaan dengan ekspansi anggota, Federasi SEAP secara resmi bertransformasi menjadi Southeast Asian Games Federation (SEAGF) pada 1977. Perubahan nama ini diikuti pula dengan penggantian nama kompetisi dari SEAP Games menjadi SEA Games, seperti yang dikenal luas hingga saat ini.
Timor Leste menjadi negara Asia Tenggara terakhir yang bergabung dengan keanggotaan SEA Games pada tahun 2003. Kehadiran Timor Leste melengkapi jumlah peserta menjadi 11 negara yang aktif berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan.
Berbeda dari Olimpiade yang memiliki daftar cabang olahraga (cabor) tetap, SEA Games memberikan fleksibilitas kepada negara tuan rumah untuk memasukkan cabor lokal atau tradisional. Kebijakan ini merupakan upaya strategis untuk memperkenalkan dan mempromosikan warisan budaya serta identitas unik negara penyelenggara melalui platform olahraga internasional.
Contohnya, Vietnam memperkenalkan balap becak dan pencak silat pada edisi 2003, sementara Filipina menyertakan lari halang rintang di SEA Games 2019. Kamboja juga memanfaatkan kesempatan ini dengan menampilkan seni bela diri tradisional mereka, bokator, pada penyelenggaraan tahun 2023.
Untuk SEA Games 2025 mendatang, Thailand telah menetapkan 50 cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Penyelenggaraan ajang multi-olahraga ini akan tersebar di tiga lokasi utama, meliputi Bangkok, Provinsi Chonburi, dan Provinsi Songkhla, menunjukkan persiapan komprehensif dari pihak tuan rumah.
Sejak pertama kali digagas, SEA Games telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar kompetisi olahraga; ia menjadi wadah krusial untuk diplomasi regional dan pengembangan atlet. Ajang ini memberikan pengalaman berharga bagi para atlet sebelum berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi seperti Asian Games atau Olimpiade, sekaligus mendorong pertukaran budaya dan peningkatan infrastruktur olahraga di seluruh kawasan.
Semangat persaudaraan dan sportivitas yang diusung oleh Laung Sukhumnaipradit sejak awal terus menjadi pilar utama setiap penyelenggaraan SEA Games. Melalui kompetisi yang sehat, negara-negara Asia Tenggara terus memperkuat ikatan dan mencapai tujuan bersama dalam harmoni dan kemajuan olahraga.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













