Kekosongan keamanan pasca-penarikan pasukan dapat menjadi celah bagi kebangkitan kembali kelompok teroris ISIS. Perlu diketahui, ISIS adalah organisasi militan transnasional yang sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah sebelum akhirnya dipukul mundur oleh koalisi internasional pada 2017.
Amir Hayat Moqaddam, Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyambut baik langkah ini secara terbuka. Ia mengatakan bahwa Iran mendukung penuh keputusan tersebut demi stabilitas kawasan yang lebih mandiri dari intervensi Barat.
Namun, peringatan serius datang dari para pejabat keamanan Irak terkait risiko hilangnya dukungan intelijen serta logistik yang selama ini disediakan oleh Amerika Serikat. Komandan Kurdi, Sirwan Barzani, melaporkan adanya peningkatan aktivitas sel tidur ISIS segera setelah pengumuman penarikan koalisi internasional dibuat.
Ancaman serangan bunuh diri dari anggota ISIS yang masih bersembunyi kini menjadi perhatian utama aparat keamanan setempat, termasuk Kolonel Khalid al-Bayati dari Kirkuk. Sebagai bagian dari transisi hubungan bilateral, pemerintah Irak telah mengambil alih pusat dukungan diplomatik Kedubes Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad pada 24 September 2026.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyatakan bahwa tanggal 1 Oktober akan menjadi awal dari era baru bagi kedaulatan nasional negaranya. Meski transisi menuju kemitraan baru telah disepakati, tantangan untuk menjaga stabilitas domestik tetap menjadi ujian nyata bagi pemerintah Irak di masa depan.