Harga Emas Dunia Rebound ke US$4.180 per Troy Ons Usai Sempat Terperosok

Harga emas dunia menunjukkan pemulihan signifikan dengan menguat 1,6 persen dan ditutup di level US$4.180,79 per troy ons pada Selasa (29/9/2026).
Kenaikan ini terjadi setelah harga logam mulia tersebut sempat terperosok 4,01 persen ke posisi US$4.114,27 per troy ons pada perdagangan Senin sebelumnya.
Tekanan hebat yang terjadi pada awal pekan dipicu oleh memanasnya ketegangan di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan penghentian negosiasi. Jalur perairan strategis tersebut merupakan titik krusial bagi distribusi minyak mentah dunia. Akibat kebuntuan tersebut, harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$105 per barel yang memicu kekhawatiran pelaku pasar akan lonjakan inflasi.
Sentimen negatif tersebut turut memperkuat spekulasi terkait kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve. Kondisi pasar mulai membaik pada sesi berikutnya seiring koreksi harga minyak mentah West Texas Intermediate yang merosot 4,27 persen ke posisi US$89,10 per barel (sekitar Rp1,38 juta per barel).
Penurunan harga energi tersebut membantu meredakan kecemasan pelaku pasar terhadap ancaman inflasi berkelanjutan. Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, menilai tekanan harga yang sempat menimpa emas didorong oleh lonjakan biaya energi yang memaksa pengetatan moneter.
Menurut Wyckoff, lonjakan harga energi tersebut berpotensi memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam jangka waktu lebih lama. Penguatan Indeks Dolar AS ke level 101,37 serta imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun yang naik ke 5,255 persen semakin menekan daya tarik emas sebagai aset aman.
Pandangan serupa datang dari Peter Grant, wakil presiden sekaligus kepala strategi logam senior di Zaner Metals, yang menganggap kenaikan harga emas pada Selasa masih bersifat terbatas. Dia menilai pergerakan tersebut hanyalah respons teknis dari kerugian besar pada perdagangan hari sebelumnya.
Grant menekankan bahwa pelaku pasar saat ini tengah menunggu rilis data ekonomi AS untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membuat posisi dolar tetap kuat dan imbal hasil obligasi bertahan di level tinggi.
Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed mencapai 68 persen pada Oktober dan 95 persen pada Desember. Pasar global saat ini memantau secara cermat laporan ketenagakerjaan ADP, indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, serta data Nonfarm Payrolls.
Pergerakan serupa juga terjadi pada komoditas perak yang mencatatkan tren pemulihan setelah sempat melemah 5,11 persen pada Senin. Harga perak berhasil bangkit 0,8 persen menjadi US$61,45 per troy ons pada penutupan perdagangan Selasa.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor







