Deezer Resmi Izinkan Pengguna Blokir Musik Buatan AI dari Playlist

Layanan streaming musik asal Prancis, Deezer, mengambil langkah berani dalam merespons membanjirnya konten audio hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di platform mereka.
Pengguna kini diberikan kendali penuh untuk menyaring dan menghapus musik buatan AI dari pengalaman mendengarkan mereka. Kebijakan ini hadir sebagai upaya menjaga orisinalitas karya musisi manusia di tengah gempuran teknologi generatif.
Keputusan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang kian mendalam di industri kreatif terkait hak cipta dan nilai seni. Banyak musisi merasa posisi mereka terancam oleh lagu-lagu yang dihasilkan algoritma tanpa keterlibatan emosional manusia.
Deezer berupaya membedakan antara konten yang benar-benar melibatkan kreativitas manusia dengan materi hasil olahan mesin. Inisiatif ini juga berfungsi untuk menekan jumlah spam lagu-lagu generik yang membanjiri platform streaming global belakangan ini.
Langkah ini sebenarnya bukan pertama kalinya perusahaan musik mencoba menanggapi tren AI yang kontroversial. Sebelumnya, beberapa label besar seperti Universal Music Group juga mendesak platform streaming untuk membatasi akses AI ke katalog lagu milik artis mereka.
Fitur baru dari Deezer ini memungkinkan penyaringan yang lebih presisi pada daftar putar pribadi pengguna. Hal tersebut memastikan bahwa audiens hanya akan disuguhkan karya musik yang lahir dari proses kreatif musisi sesungguhnya.
Tantangan utama yang dihadapi platform ini adalah efisiensi sistem identifikasi mereka dalam membedakan lagu manusia dan mesin. Jika sistem pendeteksi kurang akurat, kemungkinan besar lagu-lagu independen yang menggunakan teknologi bantuan justru akan ikut tersaring secara tidak sengaja.
Di Indonesia, tren musik buatan AI mulai menunjukkan gejala serupa dengan munculnya lagu-lagu cover yang menggunakan suara artis ternama tanpa izin. Fenomena ini memicu diskusi panjang mengenai regulasi hak cipta dan perlindungan royalti bagi para pelaku industri musik lokal di masa depan.
Deezer berharap kebijakan ini mampu mengembalikan ekosistem musik yang lebih sehat bagi para kreator. Bagi pendengar, pilihan ini memberikan kebebasan dalam menentukan selera musik mereka tanpa paksaan dari algoritma yang sering kali bias.
Sejauh ini, belum ada platform besar lain yang mengambil langkah sefrontal Deezer dalam memfasilitasi pengguna untuk melakukan filter mandiri terhadap AI. Keberhasilan inisiatif ini akan menjadi tolok ukur bagi layanan musik lainnya untuk merumuskan regulasi serupa.
Para ahli teknologi musik memprediksi bahwa intervensi manusia dalam kurasi konten akan menjadi nilai jual utama di masa depan. Di dunia yang semakin dipenuhi konten otomatis, kualitas otentik akan tetap menjadi primadona bagi penikmat seni musik di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







