
Fenomena functional burnout kini mulai banyak menghantui mahasiswa pekerja yang dituntut untuk tetap produktif meski kesehatan mental mereka sedang terganggu. Kondisi ini membuat seseorang tetap mampu menjalankan rutinitas harian, namun sebenarnya sedang berada dalam fase kelelahan mental yang kronis.
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, Onny Fransinata Anggara, menjelaskan bahwa budaya produktivitas yang berlebihan sering kali membuat tanda-tanda kelelahan tidak disadari. Mahasiswa atau pekerja mungkin masih bisa menyelesaikan tugas mereka, tetapi energi internal mereka sebenarnya terus terkuras habis setiap harinya.
Perbedaan mendasar dari burnout biasa adalah kemampuan individu dalam mempertahankan fungsi kerjanya. Meski terlihat aktif di permukaan, efisiensi kerja mereka biasanya menurun drastis secara perlahan.
Sebagai contoh, seseorang yang tadinya mampu menyelesaikan lima laporan dalam sehari perlahan mulai kewalahan dan hanya mampu mengerjakan satu atau dua saja. Penurunan kinerja ini menjadi indikator kuat bahwa ada beban mental yang tidak terselesaikan dengan baik.
Menurut Onny, faktor pemicu kondisi ini tidak hanya datang dari tumpukan pekerjaan fisik semata. Pola pikir yang cenderung menghabiskan energi untuk memikirkan hal di luar kendali sering kali menjadi penyebab utama kelelahan mental yang mendalam.
Tekanan semakin berat ketika seseorang sering membandingkan pencapaian pribadi dengan kehidupan orang lain di media sosial. Perbandingan yang tidak setara ini sering kali mengabaikan konteks waktu dan kondisi individu yang berbeda-beda.
Risiko pun meningkat saat waktu istirahat dianggap sebagai sebuah kemalasan atau kegagalan. Mengambil jeda dari pekerjaan seharusnya menjadi bagian dari manajemen diri, namun dalam lingkungan yang toksik, istirahat justru sering dipandang sebagai sikap tidak produktif.
Jika tanda-tanda kelelahan sudah mengganggu fungsi hidup sehari-hari, langkah terbaik adalah mengambil jarak sejenak dari sumber tekanan. Istirahat cukup, berbicara dengan orang kepercayaan, atau melakukan aktivitas fisik ringan bisa menjadi penawar awal bagi kesehatan mental yang mulai goyah.
Konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang perlu diambil ketika kepercayaan diri mulai tergerus akibat beban pekerjaan. Jangan sampai tekanan yang menumpuk justru dilampiaskan kepada orang-orang terdekat di rumah.
Keluarga yang seharusnya menjadi pendukung utama tidak sepatutnya menanggung dampak buruk dari stres yang tidak dikelola. Kesehatan mental individu juga sangat bergantung pada ekosistem lingkungan yang suportif dan tidak hanya menuntut angka produktivitas semata.
Membangun lingkungan kerja atau organisasi yang peduli pada stabilitas mental adalah tanggung jawab bersama di era modern saat ini. Kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat dalam menyelesaikan setiap tugas tanpa henti.
Setiap individu harus memahami bahwa istirahat bukan sesuatu yang harus menunggu hingga seseorang benar-benar jatuh sakit. Menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan ketenangan batin adalah kunci utama agar tetap bisa menjalani hidup dengan penuh kegembiraan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor