Inovasi Uhura Bionics: Mengembalikan Suara dan Emosi bagi Penyintas Kanker

Konrad Zieliński, pendiri startup Uhura Bionics, kini tengah mengembangkan perangkat wearable yang bertujuan mengembalikan kemampuan bicara bagi para penyintas kanker laring. Teknologi ini dirancang agar berfungsi semudah kacamata dalam membantu penglihatan, namun diaplikasikan untuk memulihkan suara manusia yang hilang secara natural.
Laringektomi adalah prosedur pengangkatan kotak suara yang biasanya dilakukan untuk menangani kasus kanker tenggorokan yang sudah dalam stadium parah.
Selama ini, pasien yang menjalani prosedur tersebut harus bergantung pada alat bantu bicara genggam yang menghasilkan suara datar dan mekanis. Beberapa pasien lainnya memilih implan prostesis melalui pembedahan, namun metode ini memerlukan perawatan medis berkelanjutan agar tidak memicu komplikasi infeksi. Zieliński yang kehilangan suaranya saat masih menjadi mahasiswa di University of Warsaw memahami betul batasan fisik dan sosial dari teknologi konvensional tersebut.
Melalui penelitian doktoralnya di bidang sistem bionik, ia menciptakan perangkat noninvasif yang tidak memerlukan prosedur bedah sama sekali. Alat ini memungkinkan penggunanya untuk berbicara dengan luapan emosi, tertawa, berteriak, hingga menyanyi dengan nada yang lebih manusiawi.
Kehadiran lapisan emosi dalam nada suara menjadi pembeda utama antara produk Uhura Bionics dengan perangkat bantu bicara lainnya di pasar.
Startup ini terpilih masuk ke dalam grup Startup Battlefield 200 pada ajang bergengsi TechCrunch Disrupt 2026 yang akan menampilkan berbagai perusahaan rintisan potensial. Uhura Bionics menawarkan dua model perangkat, yakni model standar dan model kelas atas yang diberi nama Whitney. Nama tersebut sengaja diambil sebagai bentuk penghormatan kepada penyanyi legendaris dunia, Whitney Houston.
Zieliński menyatakan kepuasannya terhadap hasil pengembangan perangkat Whitney karena mampu menyisipkan intonasi emosional ke dalam suara pengguna. Meskipun masih menyisakan sedikit aksen elektronik, suara yang dihasilkan terdengar jauh lebih hidup dibandingkan teknologi lama.
Pengembangan tahap selanjutnya akan difokuskan pada penambahan pilihan suara dengan nada yang lebih tinggi untuk mengakomodasi pengguna perempuan.
Perusahaan juga berencana memberikan fitur personalisasi agar setiap pengguna tidak memiliki karakteristik suara yang identik satu sama lain. Saat ini, Uhura memasarkan produknya sebagai perangkat kesejahteraan yang berarti biaya pembelian harus ditanggung sepenuhnya oleh kantong pribadi. Model dasar dibanderol seharga USD 500 (sekitar Rp7,7 juta), sementara model Whitney dijual seharga USD 1.500 (sekitar Rp23,1 juta).
Manajemen tengah mengupayakan agar perangkat tersebut diklasifikasikan sebagai perangkat medis Kelas I di wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Jika klasifikasi ini berhasil didapatkan, biaya pembelian alat tersebut dapat diganti sebagian melalui klaim asuransi kesehatan.
Langkah ini sangat diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas produk bagi pasien dengan kemampuan ekonomi yang terbatas.
Potensi pasar untuk perangkat bantu bagi pasien laringektomi diperkirakan mencapai USD 2 miliar (sekitar Rp30,8 triliun). Angka tersebut berpeluang tumbuh lebih besar jika jangkauan produk diperluas untuk menangani penderita gangguan bicara lainnya. Di pasar global, Uhura harus bersaing dengan pemain lama seperti Atos Medical serta startup inovatif serupa seperti Laronix.
Zieliński optimis bahwa model Whitney akan diterima luas oleh komunitas pasien yang merindukan kehangatan dalam berkomunikasi antarmanusia. Ia berencana mendemonstrasikan kemampuan perangkat tersebut dengan menyanyi di atas panggung dalam acara SF Tech Week pada Oktober mendatang.
Teknologi ini diharapkan mampu menghapus stigma sosial yang sering dialami oleh individu dengan keterbatasan bicara di ruang publik.
Inovasi bionik ini tidak hanya mengembalikan fungsi biologis, tetapi juga martabat bagi mereka yang sudah lama terisolasi secara komunikasi. Kemampuan untuk tertawa bersama keluarga atau sekadar berteriak di tengah keramaian adalah aspek kemanusiaan yang berusaha dipulihkan oleh Uhura Bionics. Keberhasilan Zieliński membuktikan bahwa keterbatasan fisik bisa menjadi motor penggerak untuk melahirkan solusi yang mengubah hidup banyak orang.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4566998/original/061616400_1694076572-000_APP2001040834031.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360352/original/036757100_1790629693-000_C9LK8WL-Turki_Italia.jpg)
