Lima Startup Potensial yang Menarik Perhatian Investor di PearX Demo Day

Program akselerator PearX kembali mencuri perhatian dunia teknologi setelah merampungkan program intensif selama 12 pekan di San Francisco pekan lalu. Sebanyak 16 perusahaan rintisan dipamerkan di hadapan para pemodal ventura papan atas dalam ajang demo day yang rutin digelar dua kali setahun oleh Pear VC.
Pear VC dikenal sebagai firma investasi tahap awal yang menerapkan seleksi ketat dengan membatasi jumlah peserta hanya 20 startup per angkatan. Berbeda dengan akselerator populer seperti Y Combinator, PearX menawarkan pendanaan yang bisa mencapai USD 2 juta (sekitar Rp31 miliar) serta menjaga kerahasiaan peserta hingga hari presentasi tiba.
Salah satu startup yang mencuri perhatian adalah Speridlabs yang fokus mengembangkan model spasial untuk robotika dan gim. Mereka menghadirkan Mundus, sebuah teknologi yang memungkinkan manipulasi geometri 3D tetap konsisten meskipun bagian objek diubah secara dinamis.
Selanjutnya terdapat Saia, perusahaan yang merancang cip hemat daya untuk menjalankan kecerdasan buatan langsung di perangkat. Startup ini mengklaim produk mereka mampu bekerja lebih cepat dengan konsumsi energi seperempat dari Nvidia Jetson, bahkan mereka telah menjalin komunikasi dengan Samsung untuk integrasi memori.
Sektor keamanan siber dan asisten AI turut diwakili oleh Ren yang mengedepankan privasi tinggi. Ren memanfaatkan sistem suara otomatis sepenuhnya guna meminimalkan keterlibatan manusia, sehingga data pengguna tetap aman dalam cloud privat atau diproses langsung di perangkat lokal.
Di bidang perencanaan keuangan, Veros hadir sebagai platform AI untuk pengelolaan warisan dan aset. Startup ini telah mengelola dana sekitar USD 250 juta (sekitar Rp3,9 triliun) dan kini sedang berupaya mendapatkan izin resmi sebagai lembaga perwalian terdaftar untuk memperluas layanannya.
Terakhir, Datum menjadi solusi bagi insinyur desain industri dengan fitur pencarian komponen otomatis. Mereka menggunakan teknologi sidik jari geometris untuk memindai pustaka desain 3D sebuah perusahaan, guna membantu pengembang menemukan kembali bagian yang pernah dibuat sebelumnya dengan cepat.
Keberhasilan startup-startup ini di panggung global menjadi pengingat bagi ekosistem digital di Indonesia bahwa inovasi perangkat keras dan efisiensi AI menjadi tren masa depan. Adopsi teknologi serupa di pasar domestik berpotensi mempercepat transformasi industri manufaktur dan layanan profesional yang saat ini masih sangat bergantung pada proses manual yang memakan waktu.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









