American University of Afghanistan Terancam Tutup Akibat Krisis Pendanaan

Kelangsungan operasional American University of Afghanistan kini berada di ujung tanduk setelah pemerintah Amerika Serikat menghentikan aliran dana hibah selama dua tahun ke depan. Keputusan ini secara langsung mengancam keberlangsungan pendidikan bagi ratusan mahasiswi Afghanistan yang saat ini sedang menempuh studi di sana.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa penghentian dukungan finansial tersebut merupakan buntut dari evaluasi kebijakan luar negeri yang lebih luas di kawasan Asia Tengah.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi komunitas akademik global, terutama terkait akses pendidikan bagi perempuan di bawah rezim Taliban. American University of Afghanistan merupakan institusi pendidikan swasta nirlaba yang didirikan pada tahun 2006 dengan kurikulum berbasis standar pendidikan tinggi Amerika.
Institusi ini selama hampir dua dekade menjadi simbol harapan bagi kaum muda Afghanistan untuk mendapatkan akses pendidikan liberal yang inklusif. Penutupan kampus ini akan berdampak serius pada ratusan mahasiswi yang masa depannya bergantung pada ijazah dari universitas tersebut.
Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pada Agustus 2021, banyak institusi pendidikan di Afghanistan mengalami tekanan finansial dan pembatasan operasional yang ketat. American University of Afghanistan terpaksa mengalihkan kegiatan perkuliahan ke sistem daring agar tetap bisa beroperasi meski dalam keterbatasan sumber daya.
Keputusan Washington untuk menyetop pendanaan ini juga dipandang sebagai upaya untuk menghindari keterlibatan langsung dengan otoritas de facto di Afghanistan. Namun, kelompok pegiat hak asasi manusia menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap hak dasar perempuan dalam mendapatkan pendidikan berkualitas.
Bagi mahasiswa di Indonesia, situasi ini memberikan gambaran tentang betapa rentannya institusi pendidikan di wilayah konflik yang sangat bergantung pada dukungan pihak asing. Dana yang sempat dialokasikan untuk operasional kampus ini sebenarnya bernilai jutaan dolar Amerika, atau setara dengan puluhan miliar rupiah, yang kini mendadak dihentikan.
Kehilangan dukungan finansial dari donor utama seperti Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sering kali menjadi lonceng kematian bagi proyek kemanusiaan di Afghanistan. Tanpa adanya investor baru atau skema pendanaan alternatif yang bersifat independen, operasional kampus ini kemungkinan besar tidak dapat bertahan hingga akhir tahun ajaran depan.
Pihak rektorat universitas dikabarkan tengah melobi berbagai organisasi internasional untuk mencari talangan dana darurat. Langkah ini dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berjalan walaupun dalam skala yang jauh lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi mengenai nasib aset gedung dan fasilitas kampus yang berlokasi di Kabul tersebut. Kekhawatiran akan penyitaan properti oleh pihak otoritas setempat juga mulai muncul di kalangan staf akademik yang masih tersisa.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












