Ancaman Pembunuhan Trump: Intel Israel vs. Verifikasi CIA

Laporan mengenai dugaan ancaman pembunuhan Donald Trump oleh Iran yang disampaikan intelijen Israel kini dipertanyakan validitasnya. Badan Intelijen Pusat AS (CIA) disebut tidak mampu memverifikasi secara independen sebagian besar informasi spesifik dari Israel.
Selama setahun terakhir, Amerika Serikat menerima berbagai peringatan dari Israel tentang dugaan rencana Iran untuk menyerang mantan Presiden Trump. Peringatan tersebut mencakup kemungkinan upaya pembunuhan melalui penembak jitu, perekrutan individu untuk menyerang dengan pisau, hingga penggunaan rudal bahu untuk menyerang Air Force One dalam perjalanan KTT NATO.
Namun, sejumlah pejabat AS dan intelijen Turki tidak menemukan bukti pendukung yang dapat mengonfirmasi klaim-klaim tersebut. CIA secara khusus menilai memiliki tingkat keyakinan rendah terhadap beberapa intelijen Israel mengenai ancaman dari Iran.
Meskipun tanpa verifikasi independen, Gedung Putih dan Secret Service tetap mengambil langkah pengamanan ekstra sebagai bentuk kehati-hatian. Bahkan, Trump melanjutkan serangan terhadap Iran pada Februari, meskipun laporan intelijen AS menyatakan Iran tidak aktif membangun senjata nuklir.
Juru bicara Secret Service, Anthony Guglielmi, menegaskan lembaganya terus menganalisis berbagai informasi untuk memandu operasi perlindungan. Ia menolak membahas spesifik intelijen, namun menekankan fokus menjaga keamanan di tengah ancaman terhadap presiden.
Israel sendiri membantah menggunakan intelijen untuk memengaruhi kebijakan AS terhadap Iran. Juru bicaranya menyatakan, “Orang-orang yang mengklaim Israel berusaha memengaruhi kebijakan AS melalui dugaan pembagian intelijen akan dengan cepat menuduh Israel menyembunyikan informasi penting jika hal itu menguntungkan agenda mereka sendiri.” Amerika Serikat memang bertahun-tahun sangat bergantung pada intelijen Israel terkait isu Timur Tengah.
Dalam beberapa kesempatan, CIA menilai tingkat keyakinan rendah terhadap informasi intelijen Israel, termasuk dugaan rencana pembunuhan Trump. Keterlibatan langsung pejabat Israel kepada Gedung Putih juga terjadi di tengah memburuknya mekanisme berbagi intelijen di internal pemerintahan Trump.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor













