Dilema Arab Saudi Hadapi Ancaman Houthi yang Mengincar Visi 2030

Serangan kelompok Houthi asal Yaman ke bandara internasional di ibu kota Arab Saudi semakin menunjukkan kerentanan stabilitas keamanan di kawasan Teluk. Aksi militer ini secara langsung mengancam ambisi besar Kerajaan Arab Saudi dalam mentransformasi ekonominya melalui program Visi 2030.
Tiga serangan mematikan baru-baru ini di bandara Riyadh menegaskan ketidakseimbangan kekuatan dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut.
Arab Saudi selama ini mengandalkan persenjataan canggih bernilai miliaran dolar untuk melindungi wilayah udaranya dari ancaman luar. Namun, teknologi militer tersebut seringkali kesulitan menghadapi taktik perang asimetris yang diterapkan oleh milisi dari wilayah selatan. Biaya operasional untuk menangkis satu buah pesawat nirawak seringkali jauh lebih mahal dibandingkan harga alat tempur musuh itu sendiri.
Kondisi ini menempatkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam posisi yang sulit di tengah upaya membuka pintu bagi investasi asing. Stabilitas keamanan menjadi syarat mutlak bagi investor global yang ingin menanamkan modal dalam proyek-proyek raksasa seperti Neom.
Keamanan infrastruktur transportasi udara merupakan gerbang utama bagi para pelancong dan pebisnis yang berkunjung ke Riyadh.
Gangguan pada jadwal penerbangan sipil dapat merusak citra Arab Saudi sebagai pusat pariwisata baru di Timur Tengah. Pemerintah Saudi telah mengalokasikan dana mencapai USD 800 miliar (sekitar Rp13.000 triliun) untuk mendiversifikasi ekonomi agar tidak lagi bergantung pada minyak. Target kunjungan jutaan turis mancanegara setiap tahunnya bisa terhambat jika stabilitas wilayah tidak kunjung pulih.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










