Dua Dekade Berlalu, Militer Amerika Serikat Resmi Tinggalkan Irak

Militer Amerika Serikat secara resmi mengakhiri kehadiran operasionalnya di Irak setelah dua dekade melakukan intervensi militer di negara tersebut. Penarikan mundur pasukan ini menandai babak baru bagi Irak yang kini harus menata masa depan di tengah bayang-bayang ketidakpastian politik.
Keputusan ini memicu respons beragam dari masyarakat lokal di Baghdad dan kota-kota besar lainnya.
Sebagian warga Irak merayakan kepergian pasukan asing yang mereka anggap sebagai pemicu gelombang kekerasan sektarian selama bertahun-tahun. Mereka memandang kehadiran militer asing sebagai bentuk campur tangan yang merusak kedaulatan negara sejak invasi pada tahun 2003.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas keamanan nasional pasca-penarikan pasukan. Banyak kalangan takut Irak akan jatuh ke dalam lubang kekacauan lebih dalam jika institusi pertahanan lokal belum benar-benar siap.
Negara ini berada dalam posisi sulit karena terjepit di antara kepentingan dua kekuatan besar, yakni Washington dan Teheran. Iran merupakan negara tetangga Irak yang memiliki pengaruh luas melalui kelompok milisi dan aliansi politik di dalam pemerintahan Irak.
Keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah sedang mengalami pergeseran signifikan akibat langkah ini. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi aktor dominan dalam arsitektur keamanan Irak, kini harus mencari metode diplomasi baru untuk mempertahankan kepentingannya.
Para analis memprediksi bahwa tantangan ekonomi dan ancaman sel-sel terorisme yang masih tersisa akan menjadi ujian berat bagi pemerintah Irak. Ketiadaan payung keamanan Amerika Serikat menuntut kemandirian militer yang lebih solid dari angkatan bersenjata Irak.
Pemerintah Irak sendiri menyatakan kesiapan mereka untuk memikul tanggung jawab penuh atas kedaulatan wilayahnya. Fokus utama kini beralih pada upaya rekonstruksi pasca-konflik dan pemulihan ekonomi yang sempat terpuruk akibat ketegangan militer yang berkepanjangan.
Dalam sejarah modern, invasi Amerika Serikat ke Irak telah menelan biaya fantastis mencapai USD 2 triliun (sekitar Rp31.000 triliun) dan mengorbankan ribuan nyawa dari kedua belah pihak. Angka tersebut mencerminkan betapa besarnya ambisi serta konsekuensi dari misi yang sering kali menuai kritik tajam di tingkat global ini.
Ke depan, hubungan diplomatik antara Baghdad dan Washington akan mengalami normalisasi yang lebih berbasis pada kerja sama sipil. Perubahan format hubungan ini diharapkan mampu meredam sentimen anti-Barat yang masih kuat di sebagian masyarakat Irak.
Masih harus dilihat bagaimana Irak akan bermanuver dalam percaturan politik regional yang kompleks. Masa depan negara ini kini sepenuhnya berada di tangan rakyat dan para pemimpinnya sendiri tanpa dukungan langsung dari pasukan asing.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








