Konflik Bersenjata di Tigray Ethiopia Kembali Mengancam Stabilitas Kawasan

Militer Ethiopia dilaporkan telah memasuki Mekelle, kota utama di wilayah utara Tigray, setelah otoritas lokal di kawasan tersebut memilih untuk mundur.
Penarikan pasukan dari ibu kota regional tersebut menjadi capaian signifikan bagi Perdana Menteri Abiy Ahmed. Kejadian ini berlangsung kurang dari dua pekan setelah eskalasi pertempuran antara pemerintah federal dan otoritas Tigray meningkat secara drastis.
Konflik ini memicu kekhawatiran global akan potensi perang regional di kawasan Tanduk Afrika, sebuah wilayah strategis yang membentang di Afrika Timur.
Kondisi ini berisiko melibatkan kekuatan asing, termasuk Eritrea, Mesir, serta negara-negara di Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang memiliki kepentingan geopolitik di kawasan tersebut.
Pertikaian ini mempertemukan Ethiopian National Defense Force atau tentara resmi pemerintah federal yang berbasis di Addis Ababa, dengan kelompok pemberontak Tigray People’s Liberation Front atau TPLF yang menguasai bagian utara.
Kedua belah pihak sebelumnya pernah terlibat dalam perang saudara selama dua tahun yang dimulai pada 2020. Konflik brutal tersebut merenggut ratusan ribu nyawa dan meninggalkan catatan kelam berupa laporan kekejaman massal serta kekerasan seksual yang meluas terhadap warga sipil.
Ethiopia merupakan negara dengan populasi terbanyak kedua di benua Afrika setelah Nigeria. Gejolak di sana selalu membawa dampak ekonomi dan keamanan yang signifikan bagi stabilitas kawasan sekitar.
Bulan lalu, TPLF memutuskan untuk bergabung dengan enam kelompok oposisi bersenjata lainnya guna membentuk koalisi baru bernama Alliance for Survival. Aliansi ini memiliki target politik yang spesifik.
Mereka berupaya menggulingkan Abiy Ahmed yang telah berkuasa sejak 2018. Selain itu, koalisi ini menuntut adanya reformasi mendasar terhadap konstitusi yang berlaku saat ini.
Ketegangan yang terus berlanjut ini menciptakan spekulasi mengenai masa depan politik Ethiopia. Pemerintah pusat berusaha menegakkan kedaulatan di seluruh wilayah, sementara oposisi bersenjata menuntut perubahan struktural melalui jalur perlawanan fisik.
Dunia internasional kini menyoroti pergerakan militer di Tigray dengan cermat. Para diplomat berharap agar dialog dapat menggantikan penggunaan senjata sebelum krisis kemanusiaan semakin memburuk dan meluas melampaui batas negara.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda gencatan senjata permanen yang disepakati oleh kedua kubu. Situasi di lapangan tetap cair dan sangat berbahaya bagi warga yang berada di zona konflik.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334613/original/006699400_1756722926-000_72YW3RF.jpg)



