
India tengah menghadapi tantangan serius setelah musim hujan tahun ini mencatat curah hujan terendah dalam sebelas tahun terakhir. Fenomena iklim El Nino disebut menjadi pemicu utama yang menyebabkan kegagalan panen serta krisis energi yang meluas di berbagai wilayah negara tersebut.
Ramesh Reddy, seorang petani berusia 44 tahun asal negara bagian Karnataka, harus menelan pil pahit ketika lahan tomat seluas 1,4 hektar miliknya gagal total. Sumur irigasi yang menjadi satu-satunya sumber pengairan mengering dalam hitungan minggu, memaksa Reddy merelakan investasi sebesar 320.000 Rupee atau sekitar Rp60 juta yang sebagian besar ia peroleh dari utang berbunga tinggi.
Kondisi yang dialami Reddy mencerminkan potret buram sektor pertanian India, di mana hampir setengah dari total tenaga kerja nasional bergantung pada lahan pertanian untuk bertahan hidup. Defisit curah hujan sebesar 12,6 persen dibanding rata-rata jangka panjang membuat cadangan air di 178 waduk utama negara tersebut menyusut drastis ke level 132,7 miliar meter kubik.
Penurunan debit air ini berimbas langsung pada pasokan listrik nasional yang kini berada dalam kondisi siaga. Data Grid India menunjukkan produksi listrik tenaga air merosot hingga 16 persen pada September lalu, sementara kekurangan pasokan listrik harian mencapai 560 juta kilowatt-jam.
Ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara pun meningkat, namun pasokan bahan bakar tersebut kini tidak stabil. Sebanyak 40 persen pembangkit listrik tenaga batu bara dilaporkan memiliki stok cadangan di bawah seperempat dari level kebutuhan minimum yang seharusnya tersedia.
Dampak ekonomi dari krisis ini tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga mulai menggerus daya beli masyarakat secara luas. Harga komoditas pangan pokok seperti bawang merah melonjak hingga 93 persen, sementara harga gula dan beras mengalami kenaikan signifikan yang membebani anggaran rumah tangga warga perkotaan.
Para ekonom memperingatkan adanya ancaman ganda bagi ekonomi pedesaan akibat penurunan pendapatan petani yang dibarengi dengan kenaikan harga pangan. Situasi ini menciptakan tekanan inflasi yang kian terasa, terutama saat masyarakat harus memangkas pengeluaran non-primer demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Melihat tantangan masa depan, para ahli iklim memprediksi bahwa pola cuaca di India akan semakin sulit diprediksi seiring dengan pemanasan global. Selain pengaruh El Nino, fluktuasi curah hujan yang ekstrem dipandang sebagai realitas baru yang harus dihadapi oleh sektor pertanian dan kebijakan energi India ke depan.
Bagi petani seperti Reddy, harapan untuk menanam komoditas musim dingin kini sangat bergantung pada sisa kelembapan tanah yang ada. Sembari menunggu kepastian pekerjaan sebagai petugas keamanan di Bengaluru, ia kini bersiap meninggalkan lahan pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor