Laporan IQAir 2021: Kualitas Udara Global Memburuk dan Lampaui Standar WHO

Kualitas udara global sepanjang tahun 2021 dilaporkan melonjak ke tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia. Berdasarkan laporan tahunan organisasi pemantau kualitas udara IQAir, hampir seluruh negara yang diteliti gagal memenuhi standar keselamatan udara yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Tercatat hanya 222 kota dari total 6.475 kota di dunia yang berhasil memenuhi ambang batas aman polusi udara WHO tersebut.
Laporan ini mengacu pada panduan baru WHO yang diterbitkan pada September 2021 dengan memperketat batas aman konsentrasi partikel halus PM2,5 dari 10 menjadi 5 mikrogram per meter kubik. PM2,5 merupakan polutan mikroskopis paling berbahaya yang dapat menembus jaringan paru-paru hingga masuk ke aliran darah manusia. Paparan polutan yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan kebakaran hutan ini memicu penyakit kardiovaskular, asma, serta gangguan pernapasan kronis.
India, Pakistan, dan Bangladesh menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat polusi terburuk karena melampaui batas panduan WHO hingga lebih dari 10 kali lipat. Sementara itu, negara-negara Skandinavia, Australia, Kanada, Jepang, dan Inggris mencatatkan kualitas udara paling bersih meski masih melebihi batas standar WHO sebesar 1 hingga 2 kali lipat.
Kondisi di Amerika Serikat justru memburuk pada 2021 dengan tingkat polusi melampaui panduan WHO sebesar 2 hingga 3 kali lipat.
Direktur Eksekutif IQAir North America, Glory Dolphin Hammes, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera mengambil tindakan konkret guna menekan tingkat emisi. Menurutnya, partikel halus PM2,5 telah merenggut terlalu banyak nyawa setiap tahun sehingga pengetatan standar nasional menjadi kebutuhan mendesak. WHO mencatat sekitar 4,2 juta kematian dini pada 2016 berkaitan langsung dengan paparan PM2,5.
Di wilayah Amerika Serikat, Los Angeles kembali menjadi kota dengan polusi terparah meski mencatatkan penurunan emisi sebesar 6 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan polusi justru terjadi di kota-kota lain seperti Atlanta dan Minneapolis akibat tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil serta maraknya kebakaran hutan.
"Kita sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama di sektor transportasi," ujar Hammes.
Kebakaran hutan yang dipicu oleh perubahan iklim juga memperparah kondisi udara di pesisir barat hingga timur Amerika Serikat. Kebakaran besar seperti Caldor, Dixie, dan Bootleg menghembuskan asap pekat yang menyebar ribuan kilometer. Hal ini berdampak langsung pada komunitas rentan dan pinggiran yang kerap minim perlindungan kesehatan.
Berbeda dari tren global yang memburuk, China menunjukkan perbaikan kualitas udara pada 2021. Lebih dari separuh kota di China yang dipantau mencatatkan penurunan tingkat polusi, termasuk Beijing yang berhasil melanjutkan tren positif selama lima tahun berturut-turut berkat kebijakan pengurangan industri polutif.
Di sisi lain, laporan ini mengungkapkan kerusakan lingkungan yang kian memprihatinkan di Hutan Hujan Amazon. Kawasan yang selama ini menjadi penyerap karbon utama dunia justru melepaskan lebih banyak karbon dioksida daripada yang diserap akibat deforestasi massal. Kebakaran hutan di Amazon tidak hanya mencemari udara, tetapi juga mempercepat laju pemanasan global secara keseluruhan.
Laporan IQAir ini juga menyingkap ketimpangan data pemantauan udara di kawasan berkembang.
Stasiun pemantau udara masih sangat minim di Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Kondisi ini membuat banyak negara berkembang tidak memiliki data akurat mengenai kualitas udara yang dihirup warga mereka. Chad, negara di Afrika tengah, baru pertama kali masuk dalam laporan ini dan langsung menempati posisi negara paling terpolusi kedua di dunia setelah Bangladesh.
Para peneliti menegaskan bahwa ketergantungan pada stasiun pemantau darat kerap menciptakan celah informasi di kawasan miskin. Oleh karena itu, penggunaan teknologi alternatif dan jaringan non-pemerintah menjadi pilihan penting untuk mendapatkan gambaran udara yang lebih presisi.
Berdasarkan data IQAir, wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia juga menghadapi tantangan besar terkait polusi udara perkotaan. Konsentrasi PM2,5 di kota-kota besar seperti Jakarta konsisten berada jauh di atas ambang batas aman WHO sepanjang tahun. Peningkatan emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri berbasis bahan bakar batubara menjadi pemicu utama buruknya mutu udara di kawasan ini.
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB menekankan bahwa pengurangan bahan bakar fosil akan membawa manfaat ganda bagi iklim dan kesehatan publik.
IQAir menyerukan agar laporan ini menjadi momentum bagi seluruh negara untuk segera beralih ke energi terbarukan. Tanpa langkah drastis untuk menghentikan tren pemanasan global, dampak kerusakan kualitas udara akan menjadi tidak terbalikkan bagi generasi mendatang.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor










