Bagi Malaysia, mengelola keberadaan ribuan pengungsi dan migran tidak berdokumen dari Myanmar menjadi tantangan tersendiri dalam kebijakan imigrasi. Negara ini selama bertahun-tahun menjadi tujuan populer karena kedekatan geografis dan peluang kerja di sektor informal.
Biaya operasional untuk mengelola pusat tahanan imigrasi di Malaysia mencapai angka yang tidak sedikit. Tercatat anggaran operasional untuk fasilitas penahanan migran ilegal bisa menelan biaya hingga USD 10 juta (sekitar Rp157 miliar) setiap tahunnya tergantung pada jumlah populasi di dalam pusat tahanan tersebut.
Keputusan untuk memulangkan migran di tengah situasi perang yang berkecamuk di Myanmar menimbulkan polemik diplomatik di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara anggota ASEAN sebenarnya telah menyerukan penghentian kekerasan di Myanmar melalui konsensus lima poin, namun implementasinya masih menemui jalan buntu.
Banyak pengamat kebijakan publik di Kuala Lumpur menyebutkan bahwa pemerintah Malaysia berada di posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menegakkan kedaulatan hukum imigrasi, sementara di sisi lain, tanggung jawab kemanusiaan global menuntut perlindungan bagi pengungsi perang yang tidak bisa kembali ke rumah mereka sendiri.
Hingga saat ini, belum ada informasi pasti mengenai jumlah gelombang pemulangan yang akan dilakukan oleh pihak berwenang Malaysia. Publik internasional kini terus memantau perkembangan situasi di perbatasan dan menanti respons dari badan pengungsi PBB, UNHCR, terkait keberlangsungan perlindungan bagi warga negara Myanmar di wilayah luar negeri.