Peta Jalan Perdamaian Kongo Timur: Harapan di Tengah Ujian Serius

Peta jalan perdamaian baru telah disepakati untuk mengakhiri konflik di Kongo Timur, namun implementasinya masih menghadapi ujian serius. Peran kelompok pemberontak M23 dan dugaan keterlibatan Rwanda menjadi sorotan utama yang berpotensi menggagalkan proses ini.
Pemerintah Kongo dan kelompok pemberontak M23 telah menyepakati peta jalan perdamaian di Jenewa, melanjutkan kerangka kerja yang diperantarai AS di Doha. Inisiatif ini mencakup mekanisme pemantauan gencatan senjata oleh MONUSCO, didukung oleh Amerika Serikat, Qatar, Uni Afrika, dan Swiss. Namun, ini bukanlah rencana damai final dan banyak aspeknya masih perlu disempurnakan.
Konflik berdarah bertahun-tahun telah menewaskan ratusan warga sipil dan membuat jutaan mengungsi sejak 2022, sementara M23 masih menguasai wilayah kaya mineral di Kivu Utara dan Selatan. Alex Vines dari European Council on Foreign Relations menyatakan, "Kemungkinan akan ada banyak rintangan lagi – ketidaksepakatan tetap ada mengenai sanksi terhadap M23, pembebasan tahanan, dan waktu reformasi politik." Cliffton Chifuwe dari Centre for Peace Research and Advocacy menambahkan, tingkat ketidakpercayaan mendalam antara DRC dan Rwanda menjadi penghalang besar.
Baca Juga:
- Paradoks Jet Fuel Nigeria: Eropa Aman, Maskapai Lokal Terancam
- Kesehatan Raja Harald V Norwegia Memburuk, Putra Mahkota Haakon Ambil Alih Tugas Kerajaan
- Perang Dagang AS-Kanada Memanas: Trump Tuding Ottawa Ingin Untung Tanpa Status Negara Bagian
Peran Rwanda tetap sentral, meskipun mereka berulang kali membantah tuduhan dukungan terhadap M23. Presiden Rwanda Paul Kagame justru menyalahkan faksi di dalam DRC dan ancaman dari kelompok FDLR, menegaskan akan bertindak "dengan segala cara" untuk melindungi negaranya. Alex Vines menekankan bahwa "itikad baik Rwanda dan hubungannya dengan M23 adalah pertimbangan yang sangat penting."
Meskipun demikian, ada secercah optimisme hati-hati dengan rencana implementasi berurutan dan inisiatif pemantauan untuk mengidentifikasi tanda-tanda peringatan. Chifuwe menilai tantangan terbesar adalah mengubah peta jalan ini menjadi tindakan nyata di lapangan, sebab "menandatanganinya lebih mudah daripada mengimplementasikannya." Keterlibatan mediator internasional seperti AS, Qatar, dan Uni Afrika akan krusial.
Pada akhirnya, keberhasilan peta jalan ini akan diukur dari hasil nyata bagi ribuan warga di timur DRC yang masih mengungsi, bukan sekadar sikap penandatangan. "Ujian sebenarnya adalah... apakah rakyat Kongo biasa menjadi lebih aman dan lebih baik," kata Chifuwe, menyoroti pemulihan otoritas negara dan pengelolaan sumber daya mineral. Linda Kasongo, seorang pengungsi di Zambia, merangkum harapan mendalam, "Saya harap ini berhasil karena saya ingin pulang."
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)









