Langsung ke konten
beritana
Breaking

IHSG Menguat Tipis di Tengah Variasi Kinerja Transaksi dan Sentimen Global

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaEkonomi & Bisnis
IHSG Sepekan Menguat Tipis ke Level 6.236,1
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 19 September 2025. IHSG ditutup di level 8.051 pada pekan ini. Indeks saham menguat 42,68 poin atau naik 0,53 persen dari perdagangan sebelumnya.Tempo/Martin Yogi Pardamean

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan tipis pada penutupan perdagangan sepekan periode 27 hingga 31 Juli 2026. Kinerja IHSG tercatat naik 0,64 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, IHSG pekan ini ditutup pada level 6.236,12, meningkat dari posisi 6.196,43 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami kenaikan 0,48 persen, mencapai Rp10.923 triliun dari Rp10.870 triliun pada pekan lalu. Hal tersebut dikutip dari keterangan resmi BEI, Ahad, 1 Agustus 2026.

Kendati demikian, BEI turut mencatat rata-rata kinerja perdagangan harian selama pekan ini ditutup dengan hasil yang bervariasi. Rata-rata nilai transaksi harian pekan ini merosot 21,86 persen menjadi Rp15,44 triliun dari Rp19,76 triliun pada periode sebelumnya. Volume transaksi harian BEI juga turun 31,23 persen, menjadi 30,04 miliar lembar saham dari 43,68 miliar lembar saham.

Penurunan serupa terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini, yang ambles 31,88 persen menjadi 1,82 juta kali transaksi dari 2,67 juta kali transaksi. Pada penutupan perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp250,58 miliar, sehingga akumulasi jual bersih sepanjang tahun 2026 mencapai Rp72,987 triliun.

Pergerakan IHSG yang menguat tipis seiring dengan mayoritas bursa regional Asia yang juga mengalami penguatan. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa pelaku pasar merespons positif rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan hasil pertemuan biro politik (Politbiro) Cina.

Data ekonomi AS menunjukkan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator penting pengeluaran konsumsi pribadi, pada Juni 2026 melandai ke angka 3,7 persen secara tahunan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam untuk kuartal II-2026 melambat di level 1,5 persen secara tahunan.

“Kondisi tersebut memicu spekulasi investor bahwa The Fed akan mengalihkan fokus dari pengendalian inflasi menuju mitigasi kelesuan ekonomi,” ujar Nico, dikutip dari Antara. “Pasar berekspektasi The Fed akan kembali menahan suku bunga pada rapat kebijakan di bulan September 2026.”

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update