Pita Limjaroenrat dan Mimpi Demokrasi Thailand yang Terganjal

Mantan pemimpin Partai Move Forward, Pita Limjaroenrat, merefleksikan dinamika politik Thailand yang penuh ketidakpastian setelah dirinya gagal menduduki kursi perdana menteri meskipun memenangi pemilu 2023. Perjalanan politik Pita Limjaroenrat mencerminkan benturan keras antara aspirasi reformasi generasi muda dan kekuatan kelompok elite konservatif di negara sekawasan Asia Tenggara tersebut.
"Kami memenangi mandat rakyat, tetapi sistem yang dirancang oleh rezim militer menghentikan langkah kami," ujar tokoh berusia 44 tahun itu saat mengenang kembali momentum politik setahun lalu.
Kemenangan mengejutkan Partai Move Forward pada pemilu Mei 2023 sempat membawa harapan baru bagi proses demokratisasi di Thailand. Partai berlogo segitiga oranye ini berhasil meraih 151 kursi parlemen berkat janji kampanye yang berani, termasuk reformasi hukum penghinaan kerajaan atau Pasal 112 yang sangat sensitif. Namun, koalisi yang dipimpinnya terganjal oleh penolakan dari anggota senat bentukan militer yang memiliki hak pilih dalam penentuan perdana menteri.
Senat Thailand, sebuah lembaga legislatif khusus yang seluruh anggotanya ditunjuk langsung oleh junta militer setelah kudeta 2014, menjadi penghalang utama bagi usulan reformasi tersebut. Lembaga ini memiliki wewenang konstitusional untuk memveto calon perdana menteri pilihan rakyat, sebuah mekanisme pertahanan politik yang dirancang untuk mempertahankan status quo kelompok royalis.
Hambatan tersebut membuat Pita gagal mengumpulkan dukungan mayoritas mutlak dalam sidang parlemen gabungan.
Keadaan semakin memburuk ketika Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan untuk membubarkan Partai Move Forward pada Agustus 2024. Pengadilan menilai bahwa kampanye partai untuk mereformasi hukum pencemaran nama baik kerajaan merupakan upaya merongrong sistem monarki konstitusional. Keputusan kontroversial ini juga disertai dengan hukuman larangan berpolitik selama sepuluh tahun bagi Pita dan sepuluh eksekutif partai lainnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869222/original/008133000_1782930974-ko7.jpg)





