
Presiden El Salvador, Nayib Bukele, mengeluarkan peringatan keras terhadap kelompok geng kriminal di Haiti menyusul insiden penculikan empat tentara negaranya. Peristiwa ini memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan tersebut.
Empat anggota militer El Salvador dilaporkan hilang saat sedang menjalankan misi di Haiti pada hari Minggu. Pihak otoritas keamanan setempat mengonfirmasi bahwa mereka menjadi korban penculikan oleh kelompok bersenjata yang kini mendominasi sebagian besar wilayah ibu kota, Port-au-Prince.
Nayib Bukele merespons kabar tersebut dengan gaya khasnya yang lugas melalui media sosial. Dia menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan membiarkan warga negara, terlebih anggota militer, disekap oleh kelompok kriminal tanpa konsekuensi berat.
Haiti sendiri tengah berada dalam cengkeraman krisis keamanan yang parah akibat perang antarkelompok geng yang menguasai berbagai titik vital. Sebagian besar infrastruktur di negara kepulauan Karibia tersebut kini lumpuh karena aksi kekerasan yang terus meningkat sejak awal tahun.
Dalam pernyataannya, Bukele menyatakan bahwa pihaknya akan segera mengambil langkah tegas untuk memastikan keselamatan tentara tersebut. Peringatan ini ditujukan langsung kepada para pimpinan geng yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan di Haiti.
Penculikan ini terjadi saat Haiti menantikan dukungan internasional melalui misi kepolisian multinasional yang dipimpin oleh Kenya. Pasukan ini direncanakan untuk membantu kepolisian Haiti memulihkan ketertiban di tengah ketidakmampuan pemerintah pusat menahan laju ekspansi geng bersenjata.
Situasi di Haiti memang jauh dari kata aman bagi personel asing. Kelompok bersenjata di sana sering kali menggunakan sandera sebagai alat tawar untuk menekan kebijakan pemerintah atau sekadar menuntut tebusan uang dalam jumlah besar guna mendanai operasional mereka.
El Salvador memiliki reputasi yang sangat ketat terhadap geng kriminal di bawah kepemimpinan Bukele. Kebijakan nol toleransi telah dijalankan secara massif di dalam negeri, yang kini berupaya dibawa ke panggung internasional melalui kecaman keras terhadap geng di Haiti.
Hingga saat ini, negosiasi untuk membebaskan keempat tentara tersebut masih berlangsung secara tertutup. Pemerintah El Salvador belum memberikan detail lebih lanjut mengenai lokasi pasti penyekapan demi alasan keamanan personel yang terlibat dalam upaya penyelamatan.
Para pengamat keamanan kawasan menilai ancaman Bukele merupakan langkah untuk mempertegas posisi El Salvador sebagai aktor yang tidak bisa diremehkan. Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini menunjukkan betapa krusialnya stabilitas negara dalam melindungi aparatnya dari ancaman terorganisir di luar batas wilayah kedaulatan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor