
Kebun Binatang Adelaide di Australia mencatatkan sejarah baru setelah seekor burung kasuari gelambir-ganda berhasil bertelur untuk pertama kalinya dalam 34 tahun. Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses perjodohan intensif yang dilakukan oleh para penjaga hewan di fasilitas konservasi tersebut.
Burung kasuari, yang sering disebut sebagai burung paling berbahaya di dunia karena cakar kakinya yang setajam silet, kini menjadi pusat perhatian utama para peneliti.
Induk kasuari bernama Willow menghasilkan beberapa butir telur berwarna hijau emerald yang ukurannya cukup besar. Petugas kebun binatang memantau kondisi sarang tersebut siang dan malam untuk memastikan suhu serta kelembapan tetap terjaga dengan stabil. Mereka menyatakan bahwa momen ini menjadi tonggak sejarah baru bagi keberhasilan program pengembangbiakan spesies tersebut di luar habitat aslinya.
Kasuari gelambir-ganda merupakan spesies burung besar yang tidak bisa terbang dan berasal dari hutan hujan tropis di Australia utara serta Papua. Burung ini memiliki peran vital dalam ekosistem karena membantu penyebaran benih pohon-pohon hutan yang buahnya mereka konsumsi sehari-hari.
Pencapaian di Kebun Binatang Adelaide ini menjadi kabar menggembirakan di tengah ancaman kepunahan yang terus membayangi populasi kasuari di alam liar.
Proses perjodohan antara Willow dan pasangan jantannya yang bernama Jari tidaklah mudah serta membutuhkan waktu yang relatif lama. Penjaga hewan harus ekstra waspada karena sifat kasuari yang sangat teritorial dan agresif ketika diperkenalkan dengan individu baru di dalam satu kandang. Interaksi keduanya dipantau secara ketat melalui rekaman kamera pengawas untuk mencegah terjadinya perkelahian yang dapat berakibat fatal bagi salah satu burung.
Keberhasilan ini mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali pengelola kebun binatang melihat telur kasuari pada tahun 1990.
Telur kasuari memiliki karakteristik yang unik dengan cangkang berwarna hijau pekat. Warna tersebut berfungsi sebagai penyamaran alami di lantai hutan yang penuh dengan dedaunan agar terhindar dari pantauan hewan pemangsa.
Dalam dunia kasuari, justru sang jantan yang memiliki tanggung jawab penuh untuk mengerami telur-telur tersebut hingga menetas. Selama kurang lebih 50 hari ke depan, Jari akan tetap berada di sarang dan hampir tidak pernah pergi menjauh meski hanya untuk mencari makan. Ia akan menjaga telur-telur itu dengan sifat yang sangat protektif sampai anak-anak kasuari lahir dan cukup kuat untuk mulai berjalan sendiri.
Pihak kebun binatang menyatakan bahwa setiap telur memiliki berat yang signifikan dan menjadi aset berharga bagi kelestarian genetik mereka. Program konservasi semacam ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, terkadang mencapai AUD 1 juta (sekitar Rp10,4 miliar) per tahun untuk fasilitas pendukung satwa langka.
"Ini adalah peristiwa yang luar biasa bagi seluruh tim kami yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun," ujar salah satu kurator senior di kebun binatang tersebut.
Populasi kasuari gelambir-ganda di Australia saat ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 4.500 individu di habitat aslinya. Faktor utama penurunan jumlah mereka adalah hilangnya lahan hutan akibat pembukaan area pemukiman serta tingginya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya yang membelah hutan. Kehadiran anak kasuari yang baru diharapkan dapat memperkuat populasi cadangan yang berada di bawah pengawasan manusia guna mencegah kepunahan total.
Masyarakat menyambut antusias berita ini melalui berbagai tanggapan di kanal media sosial resmi milik pengelola kebun binatang. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa strategi manajemen satwa yang tepat mampu memberikan hasil positif meskipun harus melalui proses penantian hingga puluhan tahun.
Tim medis kebun binatang tetap bersiaga memantau kondisi kesehatan Jari selama masa pengeraman yang melelahkan ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor