
Raphael Glucksmann resmi terpilih sebagai calon presiden dari Partai Sosialis Prancis untuk pemilihan umum tahun 2027 mendatang.
Kemenangan telak 66 persen dalam putaran pertama pemilihan internal ini menempatkan pria berusia 46 tahun tersebut sebagai harapan utama kelompok kiri-tengah. Namun, ia kini menghadapi dilema besar terkait cara merangkul basis pemilih muda yang selama ini lebih loyal kepada tokoh populis sayap kiri, Jean-Luc Melenchon.
Lokasi perayaan kemenangan Glucksmann di Belleville, sebuah kawasan di Paris yang dulunya merupakan lingkungan kelas pekerja, menjadi saksi ketegangan politik yang mendidih. Usai pidato kemenangannya, ia sempat menjadi sasaran aksi pelemparan tepung oleh sosok yang tidak dikenal. Insiden ini mencerminkan polarisasi tajam di internal kubu kiri Prancis yang bisa menghambat ambisi politiknya di masa depan.
Permasalahan utama terletak pada keengganan Glucksmann untuk bekerja sama dengan partai La France Insoumise (LFI) pimpinan Melenchon. Sikap tegas ini dianggap sebagai langkah berani untuk memisahkan diri dari politik radikal, namun di sisi lain berisiko mengasingkan massa pendukung Melenchon yang sangat kuat di kalangan anak muda.
Survei dari lembaga Ipsos menunjukkan betapa sulitnya posisi Glucksmann saat ini. Melenchon mampu meraup 41 persen dukungan dari pemilih di bawah usia 25 tahun, jauh melampaui posisi tawar Glucksmann. Hal ini dipicu oleh narasi Melenchon yang terus memperjuangkan isu-isu konkret bagi mahasiswa, seperti tuntutan penurunan usia pemilih menjadi 16 tahun dan penghapusan sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang dikenal sebagai Parcoursup.
Parcoursup adalah sistem terpusat di Prancis untuk mengelola pendaftaran mahasiswa ke universitas yang sering dikritik karena dianggap membatasi akses pendidikan tinggi. Kelompok muda yang merasakan tekanan ekonomi tinggi, di mana empat dari sepuluh rumah tangga berpenghasilan kurang dari 2.000 euro atau sekitar Rp34 juta per bulan, merasa aspirasi mereka lebih terwakili oleh retorika populis Melenchon.
Di sisi lain, Glucksmann mencoba menawarkan pendekatan yang lebih moderat dan berorientasi pada kebijakan ekonomi yang pro-Eropa. Ia mengusulkan pengurangan pajak jaminan sosial untuk pendapatan pekerja sambil meningkatkan pajak warisan bagi kekayaan di atas 2 juta euro atau sekitar Rp34 miliar.
Kebijakan luar negeri menjadi pembeda signifikan lainnya antara kedua tokoh ini. Glucksmann dikenal sebagai pendukung setia bantuan militer untuk Ukraina, sementara kubu Melenchon tetap bersikap skeptis dan menuntut adanya perdebatan demokratis sebelum memberikan bantuan lebih lanjut ke Kyiv. Perbedaan ideologi yang tajam ini mempertegas tantangan yang harus dihadapi Glucksmann untuk menyatukan kembali suara kiri di Prancis.
Analisis dari pakar politik Antoine Bristielle menunjukkan bahwa hanya sepertiga dari pemilih sayap kiri yang lebih memprioritaskan kemenangan ideologi di atas loyalitas partai. Kelompok ini cenderung lebih terbuka pada kompromi dan bisa menjadi penentu bagi langkah Glucksmann ke depan. Namun, tanpa kemampuan untuk menarik basis loyal Melenchon, jalan menuju kursi kepresidenan di Elysee bagi putra filsuf Andre Glucksmann ini dipastikan akan sangat terjal.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor