Arab Saudi Lancarkan Serangan Balasan Usai Bandara Diserang Kelompok Houthi

Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara balasan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap fasilitas sipil di wilayah mereka. Otoritas Arab Saudi melaporkan insiden tersebut menargetkan Bandar Udara Internasional Abha dan Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh.
Serangan tersebut menelan tiga korban jiwa dan melukai 36 orang lainnya. Angka korban ini memicu eskalasi militer baru di kawasan tersebut.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menegaskan langkah mereka merupakan respons tegas terhadap agresi yang menyasar infrastruktur strategis negara. Mereka mengategorikan serangan Houthi sebagai pelanggaran hukum internasional karena menyasar warga sipil dan fasilitas penerbangan komersial.
Dalam keterangan resminya, koalisi menyatakan telah menghancurkan sejumlah target militer milik kelompok Houthi di Sanaa, Yaman. Ibu kota Yaman tersebut saat ini memang berada di bawah kendali kelompok pemberontak Houthi.
Kelompok Houthi sendiri secara rutin melakukan serangan lintas perbatasan menggunakan pesawat nirawak atau drone bersenjata dan rudal balistik. Taktik ini kerap menyasar target-target di Arab Saudi sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi koalisi yang mendukung pemerintah sah Yaman.
Kerugian material yang dialami oleh bandara di Arab Saudi diperkirakan mencapai jutaan dolar AS. Meskipun angka pastinya belum dirilis secara resmi oleh pihak otoritas penerbangan, gangguan operasional penerbangan internasional sempat dilaporkan terjadi selama proses evakuasi dan pembersihan lokasi.
Dampak ekonomi dari serangan ini juga menjadi perhatian serius bagi Riyadh. Gangguan pada bandara internasional tidak hanya mengganggu logistik domestik, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap keamanan wilayah udara Saudi.
Ketegangan di Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun sejak konflik saudara meletus pada 2014. Perserikatan Bangsa-Bangsa sering menyebut krisis Yaman sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia akibat dampak perang berkepanjangan.
Kondisi ini menyulitkan upaya diplomasi yang sedang dirintis oleh pihak internasional untuk mengakhiri permusuhan. Dialog antara pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kerap menemui jalan buntu karena perbedaan kepentingan yang tajam.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367210/original/084659200_1791337156-messi_2.jpg)











