Bitcoin Kembali Tunjukkan Sinyal Bullish Melalui Fenomena Golden Cross Kedua

Aset kripto Bitcoin mengawali pekan ini dengan performa yang cukup solid di tengah optimisme investor yang terus meningkat. Meskipun pergerakan harga Bitcoin belum mampu menembus batas atas yang signifikan, sinyal teknikal menunjukkan adanya momentum positif yang kuat.
Pada Senin pagi, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 86.100 (sekitar Rp1,35 miliar) dengan kenaikan 1,14 persen dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar aset kripto utama ini kini mencapai USD 1,73 triliun (sekitar Rp27,2 kuadriliun), sementara total nilai pasar kripto secara keseluruhan berada di angka USD 2,94 triliun (sekitar Rp46,3 kuadriliun).
Sentimen pasar yang tercermin dalam Fear and Greed Index saat ini berada pada angka 68. Angka ini menandakan kondisi pasar yang masih berada di zona keserakahan, namun jauh lebih stabil dibandingkan bulan lalu saat pasar sempat berada dalam fase keserakahan ekstrem.
Katalis utama dari lonjakan minat investor ini bermula dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dianggap kurang memuaskan bagi perekonomian. Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat penambahan lapangan kerja hanya sebanyak 29.000 posisi pada September, sementara angka pengangguran merangkak naik ke level 4,2 persen.
Dalam dinamika pasar saat ini, kabar buruk bagi sektor tenaga kerja justru sering diterjemahkan sebagai sinyal positif bagi aset berisiko seperti kripto. Logika pasar yang unik ini muncul karena kondisi ekonomi yang melambat berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve terkait suku bunga.
Probabilitas kenaikan suku bunga untuk bulan Oktober kini turun drastis ke kisaran 16 hingga 22 persen saja. Angka ini mencerminkan perubahan drastis jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya, di mana para pelaku pasar obligasi memberikan peluang sebesar 64 persen untuk kenaikan suku bunga.
Selain faktor fundamental, indikator teknikal Bitcoin kini menunjukkan sinyal yang cukup langka berupa golden cross kedua. Fenomena golden cross terjadi ketika garis Exponential Moving Average (EMA) jangka pendek memotong ke atas garis jangka panjang, yang menjadi penanda kuat adanya tren kenaikan berkelanjutan.
Setelah sebelumnya EMA 50-hari melintasi EMA 200-hari pada pertengahan September, kini EMA 100-hari juga telah berhasil menembus ke atas EMA 200-hari. Para analis pasar menyebut bahwa perpotongan EMA 100-hari dengan 200-hari merupakan sinyal yang lebih kuat dan lebih sulit untuk dipalsukan dibandingkan dengan perpotongan jangka pendek.
Untuk menggerakkan rata-rata EMA 100-hari melewati EMA 200-hari, harga aset harus mampu bertahan di level tinggi selama berbulan-bulan. Hal ini menegaskan bahwa Bitcoin tidak sekadar mengalami pemulihan jangka pendek dari level terendah Juli, tetapi telah berhasil membangun ulang tren kenaikan jangka menengahnya secara stabil.
Kendati demikian, para investor tetap harus memperhatikan bahwa indikator EMA merupakan alat yang berbasis pada data masa lalu atau lagging indicator. Indikator ini lebih berfungsi untuk mengonfirmasi pergerakan harga yang telah terjadi daripada memprediksi arah pergerakan harga secara langsung di masa depan.
Kondisi pasar saat ini juga didukung oleh arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang terus menunjukkan angka positif. Data dari Decrypt mencatat arus masuk bersih harian mencapai USD 189,84 juta (sekitar Rp2,9 triliun), dengan total aset bersih yang kini dikelola menyentuh angka USD 101,1 miliar (sekitar Rp1,59 kuadriliun).
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor











